"Buku"カテゴリーの記事一覧
-
×
[PR]上記の広告は3ヶ月以上新規記事投稿のないブログに表示されています。新しい記事を書く事で広告が消えます。
-
Oleh Li ChengAku Percaya Bahwa Devosi Rohani Terdiri dari Membaca Alkitab, Berdoa dan Menyanyikan Lagu Pujian Secara Terus-menerus
Aku ingat saat pertama kalinya aku pergi ke gereja dan mendengarkan pendeta menyampaikan khotbah, dan setelah itu aku beroleh pengetahuan tentang keselamatan dari Tuhan Yesus dan aku menyatakan keinginanku untuk percaya kepada Tuhan di gereja tersebut. Sebelum aku pulang, pendeta mengingatkanku:"Untuk hidup sebagai seorang Kristen, orang harus melakukan devosi rohani." Aku bertanya kepada pendeta: "Apa itu devosi rohani? Bagaimana kita melakukannya?" Pendeta kemudian memberi tahu aku, "Devosi rohani adalah membaca Alkitab, berdoa dan menyanyikan lagu pujian setiap hari. Ketika kita berdoa, kita harus berdoa untuk keluarga kita, berdoa untuk saudara-saudari yang lemah di gereja kita, dan berdoa untuk para hamba Tuhan. Kita harus terus membaca Alkitab dan menyanyikan lagu pujian setiap hari, dan kita harus terus melakukannya tanpa henti. Selama engkau rajin menerapkan devosi rohani ini setiap hari, kerohanianmu akan terus berkembang dan engkau akan menjadi semakin dekat dengan Tuhan, dan hal ini akan menyenangkan hati Tuhan."Karena itu aku mulai melakukan seperti apa yang dikatakan pendeta. Setiap hari tepat jam 5 pagi aku bangun dari tempat tidur dan memulai devosi rohaniku. Pertama, aku akan membaca dua pasal dari Alkitab, lalu aku menyanyikan lagu-lagu pujian, dan kemudian aku berdoa seperti yang dinasihatkan pendeta kepadaku. Musim datang silih berganti dan aku tetap melakukan rutinitas ini, dan aku tetap berdoa meskipun kadang-kadang kakiku kram karena berlutut begitu lama. Beberapa tahun telah berlalu, dan aku percaya bahwa aku telah memperoleh lebih banyak pencerahan melalui praktik devosi rohaniku, bahwa aku semakin lama semakin memahami firman Tuhan, dan bahwa aku telah menjadi jauh lebih dekat dengan Tuhan. Namun kenyataannya, meskipun mampu melafalkan beberapa ayat klasik dari Alkitab dan mengingat beberapa kata yang sering kugunakan dalam doa, aku masih tidak mengerti sama sekali tentang firman Tuhan, kehendak Tuhan ataupun tuntutan-tuntutan-Nya. Hal ini mencapai titik di mana aku bahkan jatuh tertidur selama melakukan devosi rohaniku, dan aku tidak bisa merasakan kehadiran Tuhan sedikit pun.Aku bertanya kepada sejumlah pengkhotbah juga kepada banyak saudara-saudari tentang cara melakukan devosi rohani agar seseorang bisa hidup dekat dengan Tuhan, tetapi cara mereka melakukan devosi rohani ternyata hampir sama dengan caraku melakukannya. Mereka juga bangun pagi-pagi untuk berdoa, membaca Alkitab dan menyanyikan lagu-lagu pujian untuk Tuhan, tanpa mencapai hasil yang jelas. Beberapa orang bahkan tertidur ketika berdoa. Hal ini menyebabkan aku merasa sangat cemas: Aku telah melakukan devosi rohani selama beberapa tahun terakhir seperti yang diajarkan oleh pendeta kepadaku, namun mengapa aku tidak mencapai hasil yang baik? Apakah cara melakukan devosi rohani ini tidak terpuji di mata Tuhan? Apa sebenarnya kehendak Tuhan?Apa yang Merupakan Devosi Rohani Sejati?
Suatu hari, aku mengunjungi Saudari Song di rumahnya untuk belajar Alkitab. Ketika aku bertanya bagaimana melakukan devosi rohani yang berkenan di hati Tuhan, Saudari Song mengeluarkan sebuah buku berjudul Gulungan Kitab Dibuka oleh Anak Domba, dan membacakan sebuah petikan darinya: "Kehidupan rohani yang normal tidak terbatas pada doa, nyanyian, kehidupan bergereja, makan dan minum firman Tuhan, serta praktik lainnya, namun berarti menjalani kehidupan rohani yang baru dan semarak. Ini bukan tentang metode, namun tentang hasil. Sebagian besar orang berpikir bahwa untuk memiliki kehidupan rohani yang normal, seseorang harus berdoa, bernyanyi, makan dan minum firman Tuhan, atau mencoba memahami firman Tuhan. Tidak peduli apakah ada hasilnya, atau apakah ada pemahaman sejati, orang-orang ini hanya berfokus pada rutinitas, dan tidak berfokus pada hasil—mereka adalah orang yang hidup di dalam ritual keagamaan, bukan orang yang hidup di dalam gereja, lebih lagi mereka bukanlah umat kerajaan Surga. Doa, nyanyian, makan dan minum firman Tuhan yang dilakukan orang ini, semuanya ditetapkan oleh aturan, mereka terpaksa melakukannya, dan semua itu dilakukan karena mengikuti tren; semua itu bukan dilakukan dengan sukarela atau dari hati. Seberapa pun seringnya orang-orang ini berdoa atau bernyanyi, tidak akan ada hasilnya sama sekali, karena mereka hanya menjalankan aturan dan ritual keagamaan; bukan melakukan firman Tuhan. Hanya dengan berfokus pada metode, dan memandang firman Tuhan sebagai aturan untuk ditegakkan, orang jenis ini tidak melakukan firman Tuhan, namun memuaskan daging, dan melakukan banyak hal untuk pamer kepada orang lain. Ritual dan aturan keagamaan jenis ini datang dari manusia, bukan dari Tuhan. Tuhan tidak menegakkan aturan, tidak terikat oleh hukum apa pun; Ia melakukan hal baru setiap hari dan Ia melakukan pekerjaan yang praktis. … Jika jemaat hidup dalam aturan, dengan hati yang tertuju pada ibadah, maka Roh Kudus tidak dapat bekerja, karena hati jemaat diambil alih oleh aturan-aturan, dipenuhi oleh pemahaman manusia; maka dari itu, Tuhan tidak memiliki cara untuk dapat bekerja; jemaat hanya akan senantiasa tinggal di bawah kendali hukum, dan orang jenis ini tidak akan pernah bisa mendapatkan pujian dari Tuhan" ("Mengenai Kehidupan Spiritual yang Normal").Kutipan yang dibacakan oleh Saudari Song itu mengguncang hatiku. Aku sebelumnya telah mempelajari teologi dan membaca banyak buku rohani, baik yang kuno maupun modern, yang berasal dari Tiongkok maupun negara lainnya, dan aku telah mendengarkan banyak rekaman khotbah dari para pengkhotbah terkenal, namun aku belum pernah melihat atau mendengar ada orang yang bisa menjelaskan sejelas itu—sejernih kristal–tentang apa yang merupakan devosi rohani sejati dan hasil yang dapat kita capai jika melakukan devosi rohani. Selain itu, bacaan tersebut mengungkapkan situasi devosi rohani kita selama ini— ternyata selama ini ada beberapa aturan dan penyimpangan dalam devosi rohani kita!Setelah itu, aku mulai memahami melalui penjelasan Saudari Song bahwa devosi rohani bukan berarti terus-menerus membaca Alkitab, menyanyikan lagu-lagu pujian dan berdoa setiap hari, karena devosi rohani sejati bukanlah tergantung pada pengamalan seseorang yang terlihat dari luar atau seberapa baik seseorang melaksanakan ritual keagamaannya, atau berapa lama seseorang melakukannya setiap hari. Sebaliknya, hasilnyalah yang penting; yaitu, tergantung apakah devosi rohani kita berhasil memampukan kita untuk memperoleh lebih banyak pencerahan dan penerangan dari Roh Kudus atau tidak, apakah devosi itu memungkinkan kita untuk memiliki pemahaman yang lebih baik tentang kehendak Tuhan dan apakah devosi itu memampukan kita untuk hidup lebih dekat dengan Tuhan atau tidak. Sebagai contoh, kita tidak menyanyikan lagu-lagu pujian sekadarnya, tetapi melakukannya untuk berlatih menenangkan hati kita di hadapan Tuhan. Ketika kita menyanyikan lagu-lagu pujian, kita dapat memperoleh pencerahan dan bimbingan Roh Kudus, dan dengan demikian memahami kehendak Tuhan. Doa tidak hanya melafalkan kata-kata yang sama berulang-ulang hari demi hari, tahun demi tahun, atau meyakini bahwa semakin lama seseorang berdoa dan semakin banyak yang dia doakan maka hal itu akan semakin sesuai dengan kehendak Tuhan. Sebaliknya, doa adalah membuka hati kita dan memercayai Tuhan tentang semua hal yang ada di hati kita dan semua kesulitan yang dialami oleh kita. Doa adalah datang ke hadapan Tuhan, mencari kehendak-Nya, dan mencari jalan untuk menerapkannya. Membaca firman Tuhan tidak dilakukan untuk sekadar memahami arti harfiah dari firman itu dan mempersenjatai diri kita dengan pengetahuan dan doktrin rohani sehingga kita dapat mengkhotbahkannya kepada orang lain atau menyelesaikan masalah saudara-saudari kita. Sebaliknya, kita membaca firman Tuhan untuk merenungkannya, untuk memahami kehendak dan tuntutan Tuhan bagi kita, agar dapat menerapkan firman Tuhan dengan lebih baik lagi dan melakukan apa yang sesuai dengan kehendak Tuhan.Aku tidak pernah mencari hasil dari devosi rohaniku, tetapi sebaliknya aku melakukannya setiap hari seolah-olah hanya untuk menyelesaikan suatu tugas. Ketika aku menyanyikan lagu-lagu pujian, aku bernyanyi tanpa tujuan; ketika aku berdoa, aku seperti kaset rusak yang mengucapkan hal yang sama berulang-ulang; ketika aku membaca Alkitab, aku hanya mengerti arti harfiah dari firman itu dan mempersenjatai diriku dengan sedikit teori rohani. Aku tidak pernah merenungkan mengapa Tuhan mengucapkan apa yang Dia katakan, apa kehendak dan tuntutan-Nya di balik hal-hal yang Dia katakan, kebenaran apa yang aku pahami dari firman-Nya, dan seterusnya. Ketika membandingkan diriku dengan kutipan yang dibacakan oleh Saudari Song, aku akhirnya melihat bahwa devosi rohaniku tidak lain hanyalah untuk sekadar mengikuti aturan dan terlibat dalam ritual keagamaan—itu bukanlah devosi rohani yang benar dan sama sekali tidak akan diperkenan oleh Tuhan. Aku sungguh-sungguh merenungkan kutipan tersebut dan aku melihat bahwa kutipan itu tidak hanya mengungkapkan akar penyebab mengapa kita tidak bisa mencapai apa-apa dengan devosi rohani kita, tetapi juga menunjukkan kepada kita jalan untuk menerapkannya. Kutipan tersebut benar-benar telah sangat membantu dan bermanfaat bagiku! Aku ingin membacanya lebih lanjut, jadi aku meminjam buku tersebut dari Saudari Song.
Cara Melakukan Devosi Rohani yang Benar
Setelah aku pulang, aku membaca beberapa bagian dari buku tersebut satu persatu. Salah satu bagian mengatakan: "Orang percaya kepada Tuhan, mengasihi Dia, dan memuaskan Dia dengan cara menyentuh Roh Tuhan dengan hati mereka, sehingga memperoleh kepuasan-Nya. Ketika mencerna Firman Tuhan dengan hati mereka, dengan demikian mereka digerakkan oleh Roh Tuhan. Jika ingin mencapai kehidupan rohani yang benar dan membangun hubungan yang benar dengan Tuhan, engkau harus terlebih dahulu memberikan hatimu kepada-Nya dan menenangkan hatimu di hadapan-Nya. Hanya setelah engkau menyerahkan segenap hatimu kepada Tuhan, engkau dapat secara bertahap mengembangkan kehidupan rohani yang benar. … Jika hatimu dapat dicurahkan kepada Tuhan dan tetap tenang di hadapan-Nya, engkau akan memiliki kesempatan dan kualifikasi yang dapat dipakai oleh Roh Kudus, untuk menerima pencerahan dan penerangan Roh Kudus, dan bahkan terlebih lagi, engkau akan memberi kesempatan kepada Roh Kudus untuk memperbaiki kelemahanmu. Ketika engkau memberi hatimu kepada Tuhan, engkau dapat memasuki aspek positif lebih dalam dan berada di tataran wawasan yang lebih tinggi; dalam aspek negatif, engkau akan memiliki lebih banyak pemahaman atas kesalahan dan kelemahanmu sendiri, akan lebih bersemangat dalam upayamu memenuhi kehendak Tuhan; engkau tidak akan pasif, dan akan masuk secara aktif. Ini berarti engkau adalah orang yang tepat" ("Membangun Hubungan yang Benar Dengan Tuhan Sangatlah Penting").Ketika aku merenungkan bagian tersebut, aku mengerti bahwa jika aku ingin memiliki kehidupan rohani yang normal, maka pertama-tama aku harus melepaskan semua aturan dan praktik lamaku di masa lalu, menarik hatiku dari semua orang, peristiwa dan hal-hal lainnya yang ada di dunia luar dan menenangkan diri di hadapan Tuhan, dan berdoa kepada Tuhan, membaca firman Tuhan dan merenungkan firman Tuhan dengan hati yang jujur. Jika menemukan hal-hal yang tidak kumengerti, aku tahu aku harus lebih banyak berdoa dan mencari Tuhan lebih banyak—aku tidak bisa hanya melihat firman Tuhan sepintas lalu dan melewatinya begitu saja. Hanya berlatih dengan cara inilah aku akan dapat memperoleh pencerahan dan penerangan dari Roh Kudus dan membangun hubungan yang normal dengan Tuhan. Ketika kita mencurahkan hati ke dalam firman Tuhan, kita akhirnya menemukan apakah kita telah bertindak sesuai dengan keinginan kita sendiri atas hal-hal yang kita temui dalam hidup atau apakah kita telah bertindak sesuai dengan firman Tuhan. Kita menemukan bahwa ada beberapa hal di mana kita tidak sepenuhnya bertindak sesuai dengan kehendak Tuhan, dan kita menemukan bahwa masih ada dalam diri kita beberapa penyimpangan dan kekurangan, dan sebagainya. Ketika kita merenungkan hal-hal ini, kita mencari jalan untuk menerapkan firman Tuhan, kemudian kita memperkenalkannya ke dalam hidup kita, menerapkannya dan masuk ke dalamnya untuk menyelesaikan masalah kita yang nyata. Hanya kehidupan rohani yang dapat mencapai hasil seperti inilah yang merupakan devosi rohani yang benar. Begitu aku memahami hal ini, aku mulai berlatih dan masuk ke dalamnya: Ketika aku melakukan devosi rohani, aku akan berdoa kepada Tuhan tentang semua masalah dan kesulitan yang aku temui setiap hari dan mencari jalan keluarnya berdasarkan firman Tuhan. Ketika aku berdoa, aku memberi tahu Tuhan segala yang ada di hatiku dan berbicara jujur kepada-Nya, dan aku memercayakan kepada Tuhan semua kesulitanku dan meminta bantuan-Nya; doa-doaku tidak lagi mengikuti aturan dan sekadar melakukan ritual keagamaan atau mengucapkan kata-kata yang sama berulang-ulang. Ketika aku membaca firman Tuhan, tidak penting lagi seberapa banyak yang kubaca atau berapa banyak yang bisa kuhafal. Alih-alih, aku berfokus pada merenungkan dan mencari kehendak dan perintah Tuhan, aku merenungkan apakah aku telah menerapkan firman Tuhan ketika menghadapi masalah, jika tidak menerapkannya mengapa, dan apa yang harus aku lakukan jika berikutnya aku menghadapi masalah seperti itu lagi, dan seterusnya. Setelah menerapkan dengan cara ini selama beberapa waktu, aku merasa hubunganku dengan Tuhan menjadi semakin normal, aku sering merasakan pencerahan dan bimbingan Roh Kudus ketika membaca firman Tuhan, dan ketika aku berdoa, aku akan merasa tergerak dan dengan jelas merasakan bahwa Tuhan sedang mendengarkan doa-doaku. Terima kasih, Tuhan!Buku yang berjudul Gulungan Kitab Dibuka oleh Anak Domba, tersebut juga membahas tentang apa yang membentuk kehidupan rohani yang sejati, bagaimana membangun hubungan normal dengan Tuhan, apa yang membentuk kehidupan bergereja yang sejati, dan sebagainya. Semakin banyak aku membaca, semakin jelas semua itu bagiku dan semakin aku menikmatinya. Selain itu, buku ini menjelaskan banyak hal yang sebelumnya tidak pernah kumengerti dalam Alkitab. Melalui membaca buku ini, banyak masalah yang sebelumnya membingungkan aku dapat diselesaikan, dan aku tiba-tiba melihat cahaya, seolah-olah awan telah melayang pergi dan menyingkapkan cahaya matahari. Aku merasa seolah-olah buku ini tidak mungkin ditulis oleh orang biasa, karena terlalu meneguhkan, terlalu bermanfaat, dan aku tidak bisa tidak memikirkan firman yang dikatakan Tuhan Yesus: "Ada banyak hal lain yang bisa Kukatakan kepadamu, tetapi engkau tidak bisa menerima semuanya itu saat ini. Namun, ketika Dia, Roh Kebenaran itu, datang, Dia akan menuntun engkau sekalian ke dalam seluruh kebenaran: karena Dia tidak akan berbicara tentang diri-Nya sendiri; tetapi Dia akan menyampaikan segala sesuatu yang telah didengar-Nya: dan Dia akan menunjukkan hal-hal yang akan datang kepadamu" (Yohanes 16: 12-13). Tuhan menyatakan dengan jelas bahwa ketika Dia datang kembali, Dia akan memberi tahu kita semua kebenaran yang belum kita pahami. Buku ini mampu menjelaskan semuanya dengan sangat jelas—mungkinkah kata-kata yang ada dalam buku ini berasal dari perkataan Roh Kudus? Aku mempelajari buku ini dengan saksama dan membaca judulnya, Gulungan Kitab Dibuka oleh Anak Domba. Hatiku berdetak kencang ketika aku tiba-tiba berpikir: Mungkinkah buku ini adalah gulungan kecil yang dinubuatkan berulang kali dalam kitab Wahyu? Namun gulungan kecil yang disegel itu hanya bisa dibuka oleh Anak Domba…. Memikirkan hal-hal ini, aku tidak bisa duduk diam lebih lama, dan setelah berdoa kepada Tuhan, aku mengambil buku tersebut dan bergegas ke rumah Saudari Song …PR -
Mengenai Kehidupan Rohani yang NormalOrang yang percaya harus memiliki kehidupan rohani yang normal—inilah landasan untuk mengalami firman Tuhan dan masuk ke dalam realitas. Saat ini, bisakah semua doa, upaya untuk dekat dengan Tuhan, nyanyian, pujian, meditasi, dan upaya memahami firman Tuhan yang engkau sekalian lakukan memenuhi standar kehidupan rohani yang normal? Tidak seorang pun dari antaramu yang sangat memahami hal ini. Kehidupan rohani yang normal tidak terbatas pada doa, nyanyian, kehidupan bergereja, makan dan minum firman Tuhan, serta praktik lainnya, namun berarti menjalani kehidupan rohani yang segar dan hidup. Ini bukan tentang metode, namun tentang hasil. Sebagian besar orang berpikir bahwa untuk memiliki kehidupan rohani yang normal, seseorang harus berdoa, bernyanyi, makan dan minum firman Tuhan, atau mencoba memahami firman Tuhan. Tidak peduli apakah ada hasilnya, atau apakah ada pemahaman sejati, orang-orang ini hanya berfokus pada rutinitas, dan tidak berfokus pada hasil—mereka adalah orang yang hidup di dalam ritual keagamaan, bukan orang yang hidup di dalam gereja, lebih lagi mereka bukanlah umat kerajaan Surga. Doa, bernyanyi, makan dan minum firman Tuhan yang dilakukan orang ini, semuanya ditetapkan oleh aturan, mereka terpaksa melakukannya, dan semua itu dilakukan karena mengikuti tren; semua itu tidak dilakukan dengan sukarela atau dari hati. Seberapa pun seringnya orang-orang ini berdoa atau bernyanyi, tidak akan ada hasilnya sama sekali, karena mereka hanya menjalankan aturan dan ritual keagamaan; bukan melakukan firman Tuhan. Hanya dengan berfokus pada metode, dan memandang firman Tuhan sebagai aturan untuk ditegakkan, orang jenis ini tidak melakukan firman Tuhan, namun memuaskan daging, dan melakukan banyak hal untuk pamer kepada orang lain. Ritual dan aturan keagamaan jenis ini datang dari manusia, bukan dari Tuhan. Tuhan tidak menegakkan aturan, tidak terikat oleh hukum apa pun; Ia melakukan hal baru setiap hari dan Ia melakukan pekerjaan yang nyata. Seperti jemaat di Gereja Tiga Pendirian, yang terbatas pada saat teduh pagi, doa malam, doa makan, bersyukur dalam segala hal, dan ibadah sejenis, sebanyak apa pun yang mereka lakukan, atau seberapa lama pun mereka melakukannya, mereka tidak akan memiliki pekerjaan Roh Kudus. Jika orang hidup dalam aturan, dengan hati yang tertuju pada ibadah, maka Roh Kudus tidak dapat bekerja, karena hati mereka diambil alih oleh aturan-aturan, dipenuhi oleh pemahaman manusia; maka dari itu, Tuhan tidak memiliki cara untuk dapat bekerja; orang-orang ini hanya akan senantiasa tinggal di bawah kendali hukum, dan orang jenis ini tidak akan pernah bisa mendapatkan pujian dari Tuhan.Kehidupan rohani yang normal adalah menjalani hidup di hadapan Tuhan. Ketika berdoa, orang dapat menenangkan hatinya di hadapan Tuhan, dan melalui doa, ia dapat mencari pencerahan Roh Kudus, memahami firman Tuhan, dan dapat mengerti kehendak Tuhan. Ketika makan dan minum dari firman Tuhan, ia dapat mengerti lebih jelas dan lebih mudah mengenai apa yang Tuhan ingin lakukan sekarang, dan bisa memiliki jalan penerapan yang baru dan ia tidak bersikap konservatif, sehingga semua ibadah yang dilakukannya adalah untuk tujuan mencapai perkembangan dalam hidup. Misalnya, saat berdoa, doanya itu bukan untuk tujuan mengatakan hal-hal yang baik, atau untuk berseru di hadapan Tuhan guna mengungkapkan perasaan berutangnya, sebaliknya itu adalah untuk melatih rohnya, untuk menenangkan hatinya di hadapan Tuhan, untuk berlatih mencari petunjuk dalam segala hal, untuk menjadikan hatinya hati yang ditarik oleh terang baru setiap hari, tidak untuk menjadi pasif atau malas, dan untuk masuk ke jalur yang benar dalam melakukan firman Tuhan. Saat ini, sebagian besar orang berfokus pada metode, dan tidak mencoba mengejar kebenaran untuk mencapai perkembangan dalam hidup; di sinilah orang-orang menyimpang. Juga ada beberapa orang yang, meskipun mereka mampu menerima terang baru, metode mereka tidak berubah; mereka memadukan pemahaman keagamaan lama mereka untuk menerima firman Tuhan pada zaman sekarang, dan apa yang mereka terima masih merupakan doktrin yang membawa pemahaman agama besertanya, dan mereka tidak secara langsung menerima terang hari ini. Maka dari itu, ibadah mereka tidak murni—mereka melakukan hal yang sama dengan nama baru, dan seberapa pun bagusnya ibadah mereka, itu tetap saja munafik. Tuhan membimbing orang untuk melakukan hal baru setiap hari, dan mewajibkan mereka untuk memiliki wawasan dan pemahaman baru setiap hari, serta tidak kuno atau monoton. Jika engkau telah percaya pada Tuhan selama bertahun-tahun, namun metodemu belum berubah sama sekali, jika engkau masih bersemangat dan sibuk di luar, dan tidak hadir di hadapan Tuhan untuk menikmati firman-Nya dengan hati yang tenang, maka engkau tidak akan bisa memperoleh apa pun. Ketika menerima pekerjaan baru Tuhan, jika engkau tidak menyusun rencana baru, jika engkau tidak melakukannya dengan cara yang baru, jika engkau tidak mencari pemahaman baru, namun berpegang pada hal-hal lama dari masa lalu dan hanya menerima sejumlah kecil terang yang baru tanpa mengubah caramu melakukannya, maka meskipun orang jenis ini secara nama berada dalam aliran ini, pada kenyataannya mereka adalah orang Farisi beragama yang berada di luar aliran Roh Kudus.Jika ingin menjalani kehidupan rohani yang normal, engkau perlu menerima terang yang baru setiap hari, mencari pengertian sejati firman Tuhan, dan memperoleh kejelasan mengenai kebenaran. Engkau perlu memiliki jalan penerapan dalam melakukan segala hal, dan dengan membaca firman Tuhan setiap hari, engkau dapat menemukan pertanyaan baru dan menyadari kekuranganmu sendiri. Hal ini selanjutnya akan menghasilkan hati yang haus dan lapar, yang akan menggerakkan seluruh keberadaanmu, dan engkau akan mampu tenang di hadapan Tuhan kapan saja, dan merasa takut akan tertinggal. Jika orang bisa memiliki hati yang haus dan mencari, juga bersedia untuk memasukinya secara terus menerus, maka mereka berada di jalur yang benar dalam kehidupan rohaninya. Semua orang yang bersedia menerima dirinya digerakkan Roh Kudus, yang ingin mengalami kemajuan, yang bersedia disempurnakan oleh Tuhan, yang merindukan pemahaman akan firman Tuhan yang lebih mendalam, dan yang tidak mencari hal-hal supernatural, namun yang membayar harga nyata, menunjukkan pertimbangan nyata akan kehendak Tuhan, memasuki secara nyata, menjadikan pengalaman mereka lebih sejati dan lebih realistis, yang tidak mencari kata-kata kosong dari doktrin, dan yang juga tidak mencari perasaan supernatural, atau menyembah manusia hebat mana pun—orang jenis ini telah memasuki kehidupan rohani yang normal. Segala sesuatu yang mereka lakukan adalah untuk tujuan mencapai lebih banyak perkembangan dalam hidup, untuk menjaga roh mereka tetap baru dan tidak stagnan, dan untuk senantiasa mampu memasuki secara positif. Misalnya ketika mereka berdoa sebelum makan, mereka tidak terpaksa untuk melakukannya, namun mereka menenangkan hati mereka di hadapan Tuhan, bersyukur kepada Tuhan di dalam hati, dan bersedia hidup untuk Tuhan, meletakkan waktu mereka di tangan Tuhan, serta bersedia bekerja sama dengan Tuhan dan mencurahkan energi untuk Tuhan. Jika hati mereka tidak bisa tenang di hadapan Tuhan, mereka lebih memilih untuk tidak makan, namun tetap beribadah maka ini bukan terikat oleh aturan, tetapi melakukan firman Tuhan. Beberapa jemaat ketika berdoa sebelum makan, secara sadar memposisikan tubuh pada postur tertentu untuk melakukan gerakan tertentu, yang tampak sangat saleh, namun pikiran mereka berkelana ke mana-mana: "Mengapa aku perlu melakukan dengan cara ini? Bukankah banyak hal berjalan baik-baik saja tanpa berdoa? Banyak hal masih sama saja setelah berdoa, jadi mengapa harus repot?" Orang jenis ini terikat aturan, dan meskipun mereka berkata bahwa mereka bersedia menyenangkan Tuhan, hati mereka belum hadir di hadapan Tuhan. Mereka berdoa seperti ini bukan untuk berlatih menenangkan hati di hadapan Tuhan, namun melakukannya untuk membodohi orang lain dan agar orang lain melihat. Orang jenis ini benar-benar orang munafik, seperti gembala agamis yang hanya bisa memohon untuk orang lain, namun diri sendiri tidak bisa memasuki; orang jenis ini adalah pemuka agama, sampai ke tulang sumsumnya! Setiap hari Tuhan mengatakan hal-hal baru, melakukan hal-hal baru, namun engkau terikat oleh aturan setiap hari, mencoba membodohi Tuhan, berurusan dengan Tuhan secara acuh tak acuh, jadi bukankah engkau merupakan seseorang yang menentang Tuhan? Bisakah engkau menerima berkat saat terikat oleh aturan dan menentang Tuhan? Tidakkah engkau akan dihajar oleh Tuhan?Pekerjaan Tuhan sedang berkembang pesat, menghempaskan agamawan dari berbagai agama dan denominasi dan selebriti yang mematuhi ibadah gereja ke tempat yang jauh, juga menyerakkan para pakar di antara engkau sekalian yang sangat senang terikat oleh aturan ke empat penjuru mata angin. Pekerjaan Tuhan tidak menunggu, tidak mengandalkan apa pun dan tidak ditunda-tunda. Tidak menarik atau menyeret siapa pun; jika tidak bisa mengimbanginya, maka engkau akan ditinggalkan, tidak peduli berapa tahun engkau telah mengikuti-Nya. Tidak peduli seberapa memenuhi syaratnya engkau bak veteran, jika terikat aturan, engkau akan disingkirkan. Aku menyarankan orang jenis ini untuk memiliki sedikit kesadaran diri, untuk dengan sukarela mengurangi perannya, dan tidak berpegang pada hal lama; membuat orang-orang melakukan firman Tuhan sesuai dengan prinsip tindakanmu—bukankah tindakan ini mencoba memenangkan hati manusia? Ibadahmu terikat aturan, dan mengajarkan kepada orang-orang untuk berpegang pada pelayanan gereja. Engkau senantiasa membuat orang melakukan banyak hal sesuai dengan keinginanmu, jadi bukankah ini membentuk kelompok-kelompok kecil? Bukankah ini memecah-mecah gereja? Jadi bagaimana engkau memiliki keberanian untuk berkata bahwa engkau mempertimbangkan kehendak Tuhan? Apa yang memberimu hak untuk berkata bahwa semua ini adalah untuk menyempurnakan orang lain? Jika engkau terus hidup dengan cara ini, bukankah hal ini mengarahkan orang pada ritual keagamaan? Jika orang memiliki kehidupan rohani yang normal, jika mereka memperoleh pelepasan dan kebebasan dalam roh mereka setiap hari, maka mereka bisa melakukan firman Tuhan dengan bebas untuk memuaskan Tuhan, dan bahkan ketika berdoa, mereka tidak hanya menjalankan formalitas atau mengikuti proses, dan mereka mampu mengimbangi terang baru setiap hari. Misalnya, ketika berlatih menenangkan hati di hadapan Tuhan, mereka bisa membuat hati mereka benar-benar tenang di hadapan Tuhan, dan tak seorang pun dapat mengganggu mereka, dan tak ada orang, peristiwa, atau hal-hal yang dapat mengekang kehidupan rohani mereka yang normal. Ibadah semacam ini bertujuan memperoleh hasil, bukan hanya memberi kepada orang berbagai aturan untuk mereka taati. Penerapan semacam ini tidak terikat oleh aturan, namun untuk memajukan perkembangan orang dalam hidup. Jika engkau hanyalah orang yang menegakkan aturan, maka hidupmu tidak akan pernah berubah; meskipun orang lain bisa melakukan dengan cara ini, seperti yang engkau lakukan, pada akhirnya, orang lain dapat mengimbangi laju pekerjaan Roh Kudus, sedangkan engkau akan tersingkir dari aliran Roh Kudus. Jadi, bukankah engkau membodohi dirimu sendiri? Tujuan firman ini adalah untuk memungkinkan orang menenangkan hati mereka di hadapan Tuhan dan berpaling kepada Tuhan, untuk memungkinkan pekerjaan Tuhan dilaksanakan terhadap orang-orang dengan leluasa, dan agar memperoleh hasil. -
Kisah Nyata Kristen: Aku Mungkin Tidak Kaya, tetapi Aku Sangat BeruntungOleh Bong, FilipinaAku Ingin Menjadi Kaya"Kepala sekolah, tolong beri anakku kesempatan dan biarkan dia mengikuti ujian!" Mata ibuku memohon belas kasihan kepala sekolah saat dia berbicara dengan suara yang sedikit bergetar.Dengan air muka tetap serius, kepala sekolah berkata: "Tidak, sekolah punya peraturan. Setiap anak hanya boleh mengikuti ujian apabila biaya ujian telah dibayarkan!"Ibuku tampak malu dan memohon kepada kepala sekolah, katanya: "Kepala sekolah, aku juga tahu keadaan sangat sulit bagi Anda di sekolah, tetapi aku punya banyak anak dan kami baru saja akan mengusahakan. Kami benar-benar tidak mampu membayar biaya ujian. Bagaimana kalau aku menulis Surat Pernyataan Berutang (SPB) kepada sekolah, lalu Anda mengizinkan putraku mengikuti ujian, dan aku akan mencari cara untuk membayar utangku kepada Anda sesegera mungkin …."Kepala sekolah menatap ibuku dan berpikir sejenak. Tampak seolah-olah dia tidak punya banyak pilihan, lalu berkata: "Oke, baiklah!"…………Aku tidak akan pernah lupa sewaktu aku melanjutkan ke SMA ketika keluargaku tidak mampu membayar biaya ujian, ibuku memohon kepada kepala sekolah agar mengizinkan aku mengikuti ujian dan dia harus menulis SPB. Aku merasa sangat marah saat itu. Dalam masyarakat di mana uang yang berkuasa, jika engkau tidak punya uang, engkau tidak dapat mencapai apa pun, dan diam-diam aku bertekad bulat: Setelah tumbuh dewasa, aku akan bekerja keras untuk menghasilkan uang, menjadi kaya dan mengubah suratan nasibku sendiri!Kehidupan yang Menukar Kesehatan Demi UangSetelah lulus SMA, untuk mewujudkan impianku sesegera mungkin, aku mendaftar di sekolah kejuruan dan belajar reparasi mobil. Ketika belajar di sekolah tersebut, aku berusaha keras untuk belajar pengetahuan spesialis. Ketika teman-teman sekelasku pergi menikmati waktu luang mereka di siang hari, aku masih belajar keterampilan mesin; ketika semua orang pergi tidur di malam hari, aku terjaga membaca dan belajar keras.Setelah lulus, aku pergi ke Manila untuk mengembangkan keterampilanku. Namun, karena tidak memiliki koneksi dan sertifikat kelulusanku bukan dari sekolah terkenal, ketika aku melamar pekerjaan, tidak ada yang mau mempekerjakan aku. Aku merasa tidak punya pilihan lain selain bekerja di perusahaan reparasi mobil milik pamanku. Untuk menghasilkan lebih banyak uang, aku memperbaiki mobil dan membantu pamanku menghitung laporan keuangannya. Aku bekerja setiap hari dari dini hari hingga senja, dan aku masih sering bekerja lembur ketika orang lain selesai dan pulang.Setelah menikah, aku memiliki tiga anak. Aku tidak ingin anak-anakku menjadi miskin seperti aku dulu, jadi aku bekerja lebih keras. Aku bekerja setiap hari dari jam 7 pagi sampai jam 7 malam, dan setelah bekerja aku mengendarai tuk-tuk listrik, mengangkut orang-orang berkeliling demi menghasilkan uang tambahan. Akhirnya aku pulang sekitar jam 2 pagi dan hanya tidur sekitar tiga atau empat jam setiap malam. Bukan hanya itu, aku juga menggunakan cuti empat hari yang kumiliki setiap bulan untuk bekerja sambilan sebagai sopir taksi demi menghasilkan sedikit uang tambahan. Sekalipun aku sudah menjadi orang yang percaya kepada Tuhan, aku hanya menghadiri pertemuan ibadah ketika aku memiliki waktu luang dan terkadang aku merasa berutang kepada Tuhan. Namun ketika aku melihat keluargaku tidak hidup sejahtera, aku akan mulai bekerja keras lagi membanting tulang demi mendapatkan uang.Setelah beberapa tahun bekerja keras, akhirnya aku bisa membeli rumah dan mobil. Namun, yang tidak begitu hebat adalah, karena aku telah bekerja di malam hari begitu lama dan terlalu memaksakan diri, aku mengalami tekanan darah tinggi. Dokter berpesan agar aku pergi berobat dan tidak lagi terlalu banyak bekerja. Aku berpikir dalam hatiku: "Kondisi kesehatanku sudah tidak bagus dan jika nanti aku tidak bisa mencari uang, apakah itu berarti bahwa harapanku untuk menjadi kaya sekarang pupus?" Memikirkan hal ini, aku merasa putus asa. Namun, aku tidak mau menyerah begitu saja, jadi aku pergi berobat dan melanjutkan mencari uang baik siang maupun malam. Baru ketika aku benar-benar merasa tidak sehat secara fisik, aku terpaksa tinggal di rumah dan tidak mengeluarkan mobil. Tetapi setiap kali beristirahat, aku menyadari kalau aku akan menghasilkan uang lebih sedikit dan kemudian aku menjadi enggan untuk beristirahat, sehingga aku menahan penyakitku dan terus mengemudi. Hingga akhirnya, penyakitku memburuk dan aku menjadi sangat lemah sehingga tidak bisa bekerja lagi. Aku tidak punya pilihan selain berhenti bekerja dan beristirahat, serta mengandalkan obat agar tetap bertahan ….Aku Mendengar Panggilan TuhanSuatu hari di bulan Juni 2016, Pendeta Jess dan istrinya datang menemui kami. Mereka mengatakan bahwa Tuhan Yesus telah datang kembali, dan bahwa Dia sedang melakukan tahap pekerjaan yang baru. Mereka berkata bahwa Tuhan Yesus telah melakukan pekerjaan penebusan di Zaman Kasih Karunia dan, meskipun dosa-dosa kita telah diampuni oleh Tuhan, karena kita telah sedemikian dirusak oleh Iblis, natur berdosa kita yang jahat seperti Iblis tetap berakar dalam diri kita. Mereka berkata bahwa di bawah kekuasaan sifat berdosa kita, kita acap kali mampu berbuat dosa dan melawan Tuhan, dan kita diikat serta dikekang oleh dosa. Mengingat kebutuhan kita sebagai manusia yang rusak, pada akhir zaman Tuhan sekali lagi menjadi manusia untuk melakukan tahap pekerjaan penghakiman dan pentahiran manusia oleh firman, dan tahap pekerjaan ini dilakukan di atas dasar pekerjaan penebusan. Tuhan datang untuk menyelamatkan kita sepenuhnya dari ikatan dosa, dan ini sepenuhnya merupakan penggenapan nubuat Alkitab "Penghakiman harus dimulai di rumah Tuhan" (1 Petrus 4:17).
Mendengar persekutuan Pendeta Jess, hatiku merasa sangat tersentuh. Aku memikirkan tentang bagaimana, meskipun telah percaya kepada Tuhan selama bertahun-tahun, aku tidak pernah lepas dari ikatan dosa, tetapi tetap mengikuti tren sosial dan mengejar kehidupan yang berlimpah materi …. Sesekali, aku merasa berutang kepada Tuhan, tetapi aku tidak bisa mengendalikan diriku—aku benar-benar memiliki dosa yang berakar dalam diriku! Makin aku mendengarkan, makin aku merasa bahwa persekutuan Pendeta Jess berasal dari Tuhan, jadi kuputuskan untuk mendengarkannya dengan sungguh-sungguh. Pendeta Jess kemudian bersaksi kepadaku tentang pekerjaan Tuhan Yesus yang datang kembali—Tuhan yang Mahakuasa—dan dia mengadakan persekutuan tentang aspek-aspek kebenaran seperti tiga tahap pekerjaan Tuhan untuk menyelamatkan umat manusia, misteri inkarnasi, bagaimana Tuhan melakukan pekerjaan penghakiman-Nya di akhir zaman untuk mentahirkan dan mengubah manusia serta bagaimana Tuhan menentukan tempat tujuan akhir umat manusia. Aku menjadi yakin bahwa Tuhan Yang Mahakuasa adalah Tuhan Yesus yang datang kembali, dan aku dan istriku dengan senang hati menerima pekerjaan Tuhan Yang Mahakuasa di akhir zaman.Tepat setelah menerima pekerjaan Tuhan di akhir zaman, dengan bersemangat aku menghadiri pertemuan ibadah, aku membaca firman Tuhan setiap kali aku mempunyai waktu, aku merasa sangat dekat dengan Tuhan dan kondisi rohku makin lebih baik. Tetapi setelah beberapa saat, melihat bahwa keluargaku membutuhkan uang untuk banyak hal, aku berpikir aku harus mulai menghasilkan uang dengan segera. Itu semua tidak akan terwujud jika tidak mempunyai uang, jadi aku mulai bekerja keras sekali lagi. Kadang-kadang, pekerjaan berbenturan dengan pertemuan gereja dan aku malah memilih untuk mencari uang, jadi aku tidak rutin menghadiri pertemuan ibadah. Istriku dan saudara-saudariku di gereja berkali-kali menyampaikan persekutuan kepadaku, dengan mengatakan bahwa pekerjaan akhir zaman adalah tahap terakhir pekerjaan Tuhan untuk menyelamatkan umat manusia. Kita harus berfokus untuk mengejar kebenaran, kata mereka, kesenangan fisik adalah hampa, memiliki makanan dan pakaian sudah cukup, dan tidak apa-apa bekerja hanya pada jam-jam normal. Mereka menyuruhku untuk tidak mengejar kekayaan dan kesenangan materi begitu banyak sehingga aku bahkan tidak mempunyai waktu untuk menghadiri pertemuan ibadah, karena jika demikian aku mungkin akan kehilangan kesempatan untuk mendapatkan kebenaran. Tetapi hatiku sudah dikuasai uang dan aku tidak menggubris apa yang dikatakan saudara-saudariku; aku terus bekerja keras untuk mendapatkan uang.Sesudahnya, aku bekerja di perusahaan pamanku di siang hari dan mengendarai taksi di malam hari untuk menghasilkan sedikit tambahan uang. Sebulan berlalu dengan cara ini, lalu dua bulan, kemudian tiga bulan…. Untuk menghasilkan uang, aku terus-menerus hiruk-pikuk dan sibuk. Selama waktu ini, taksiku mengalami masalah hampir setiap hari, tetapi aku tidak pernah berdoa kepada Tuhan atau menenangkan rohku untuk melakukan refleksi diri supaya mengetahui alasan mengapa demikian. Kemudian pada suatu hari, aku baru saja hendak mengeluarkan taksiku ketika mesinnya mogok. Berpikir bahwa kerusakan besar seperti itu tidak akan dapat diperbaiki dengan cepat, aku pulang ke rumah. Sambil berjalan pulang, aku tidak bisa menahan diri untuk bertanya-tanya: "Sejak aku mulai menyibukkan diriku untuk menghasilkan uang, aku belum menghadiri pertemuan ibadah rutin, dan aku merasa makin jauh dari Tuhan. Setiap hari, kepalaku dipenuhi dengan pemikiran tentang bagaimana menghasilkan lebih banyak uang dan bagaimana menjalani kehidupan materi yang lebih baik. Aku tidak pernah memikirkan bagaimana aku bisa menghadiri pertemuan ibadah atau bagaimana aku bisa membaca lebih banyak firman Tuhan dan memahami lebih banyak kebenaran. Mesin mobilku tiba-tiba mogok hari ini—mungkinkah kehendak baik Tuhan ada di balik kejadian ini?"Firman Tuhan Menuntunku untuk Melihat Kejahatan IblisSetelah tiba di rumah, aku melihat bahwa istriku tidak berada di sana, jadi aku pergi mencarinya ke gereja. Kebetulan aku bertemu dengan dua saudari dan, ketika mereka mengetahui bahwa mobilku bermasalah, mereka bersekutu denganku, kata mereka: "Saudaraku, engkau seorang Kristen, dan saat menghadapi masalah, engkau seharusnya menerima bahwa semua itu adalah dari Tuhan! Engkau telah bekerja keras terus-menerus untuk menghasilkan uang, sampai sekarang sudah cukup lama engkau tidak menghadiri pertemuan ibadah secara rutin dan hatimu semakin menjauh dari Tuhan. Mobilmu rusak hari ini dan kehendak baik Tuhan ada di balik kejadian ini. Engkau harus menenangkan hatimu dan mencari dengan tekun. Pikirkan baik-baik: Apakah uang diperoleh hanya karena kita ingin memperolehnya? Apakah kita benar-benar mampu mengendalikan nasib kita sendiri? Jika kita memahami pertanyaan-pertanyaan ini, kita akan tahu pendekatan apa yang harus kita ambil terhadap uang." Mereka kemudian memintaku membaca satu bagian firman Tuhan: "Nasib manusia dikendalikan oleh tangan Tuhan. Engkau tidak mampu mengendalikan dirimu sendiri: Meskipun selalu terburu-buru dan menyibukkan diri sendiri, manusia tetap tidak mampu mengendalikan dirinya sendiri. Jika engkau dapat mengetahui prospekmu sendiri, jika engkau dapat mengendalikan nasibmu sendiri, apakah engkau masih menjadi makhluk?" ("Memulihkan Kehidupan Normal Manusia dan Membawanya ke Tempat Tujuan yang Mengagumkan" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"). Setelah membaca bagian ini, kedua saudari itu kemudian memberiku persekutuan tentang aspek kebenaran kedaulatan Tuhan atas nasib umat manusia. Setelah mendengarkan ini, aku merasa dipenuhi dengan segala macam emosi yang berbeda: "Ya," pikirku. "Kita umat manusia adalah ciptaan Tuhan, dan nasib kita dikuasai dan dikendalikan oleh Tuhan. Tuhan juga menentukan sejak semula berapa banyak uang yang dapat kita hasilkan seumur hidup kita, tetapi aku tidak mengakui kenyataan kedaulatan Tuhan atas nasib umat manusia, tetapi sebaliknya hanya berfokus menghasilkan uang dengan kerja kerasku sendiri, menjadikan diriku kaya, mencoba mengubah nasibku sendiri dan berjuang membebaskan diri dari aturan Tuhan—aku benar-benar pemberontak dan bebal!" Setelah menyadari hal ini, aku berkata pada kedua saudari itu, "Sejak aku berhenti menghadiri pertemuan ibadah secara rutin demi menghasilkan uang, aku sudah menghabiskan semua uang yang kuperoleh dengan mengemudikan taksi untuk memperbaiki mobil. Kali ini, uang yang harus kukeluarkan untuk mesin baru adalah semua uang yang kuperoleh dengan mengemudikan taksi selama tiga bulan terakhir. Ini membuat aku benar-benar menghargai bahwa kita benar-benar tidak dapat mengendalikan nasib kita sendiri, dan apakah aku hidup miskin atau kaya atau berapa banyak uang yang kumiliki tidak ditentukan semata-mata oleh upaya sepihakku, tetapi lebih ditentukan oleh kedaulatan Tuhan. Tuhan memakai masalah mesin mobilku mogok hari ini untuk mendesakku agar kembali ke hadapan-Nya, membuatku mengenali kedaulatan-Nya dan agar aku tidak lagi bergumul sendiri. Aku harus belajar bagaimana menaati Tuhan dan menjadikan pengejaran akan kebenaran sebagai prioritasku. Satu-satunya hal yang benar untuk dilakukan adalah memercayakan perihal mencari uang ke dalam tangan Tuhan!"Setelah mendengar aku mengatakan ini, salah seorang saudari berkata, "Syukur kepada Tuhan! Saudaraku, bahwa engkau dapat memahami hal ini, itu adalah karena tuntunan Tuhan! Tetapi jika kita ingin benar-benar bebas dari ikatan yang dikenakan uang pada kita, kita harus memiliki kepekaan mengenai cara-cara dan siasat curang yang Iblis pakai dengan menggunakan uang untuk merusak dan membahayakan kita, kita harus mendapatkan pemahaman yang menyeluruh tentang kejahatan dan kekejian si Iblis serta memahami upaya sungguh-sungguh yang dilakukan Tuhan demi menyelamatkan kita. Marilah kita membaca bagian lain dari firman Tuhan yang berkaitan dengan aspek ini." Sambil mengatakannya, saudari itu membacakan bagiku satu bagian firman Tuhan: "'Uang membuat dunia berputar' adalah filsafat Iblis, dan filsafat ini berlaku di tengah seluruh umat manusia, di tengah setiap masyarakat manusia. Engkau dapat mengatakan bahwa itu adalah sebuah tren karena pepatah tersebut sudah ditanamkan ke dalam hati setiap orang dan kini melekat dalam hati mereka. Pada mulanya orang tidak menerima pepatah ini, lalu menjadi terbiasa dengannya sehingga ketika mereka berhubungan dengan kehidupan nyata, mereka secara bertahap menerima filsafat ini secara diam-diam, mengakui keberadaannya dan akhirnya, mereka sendiri menyetujuinya …. Tidakkah engkau semua merasa bahwa engkau tidak dapat bertahan hidup di dunia ini tanpa uang, bahwa bahkan suatu hari akan mustahil? Status orang didasarkan pada berapa banyak uang yang mereka miliki dan begitu pula kehormatan mereka. Punggung orang miskin membungkuk malu, sementara orang kaya menikmati status tinggi mereka. Mereka berdiri tegak dan bangga, berbicara keras-keras dan hidup dengan sombong …. Sejauh mana pepatah ini memengaruhimu? Engkau mungkin tahu jalan yang benar, engkau mungkin tahu kebenaran, tetapi engkau tidak berdaya untuk menempuhnya. Engkau mungkin tahu dengan jelas firman Tuhan, tetapi engkau tidak mau membayar harga, tidak mau menderita untuk membayar harga. Sebaliknya, engkau lebih suka mengorbankan masa depan dan takdirmu sendiri untuk selalu melawan Tuhan. Tidak peduli apa yang Tuhan firmankan, tidak peduli apa yang Tuhan lakukan, tidak peduli sejauh mana engkau menyadari bahwa cinta Tuhan kepadamu sangat dalam dan luar biasa, dengan keras kepala engkau masih akan tetap menempuh jalan itu dan membayar harga demi pepatah ini. Artinya, pepatah ini sudah mengendalikan perilakumu dan pikiranmu, dan engkau lebih suka membiarkan nasibmu dikendalikan oleh pepatah ini daripada meninggalkannya. Orang melakukan ini, mereka dikendalikan oleh pepatah ini dan dipengaruhi olehnya. Bukankah ini akibat dari Iblis yang merusak manusia? Bukankah filsafat dan watak jahat Iblis ini sudah mengakar di dalam hatimu? Jika engkau melakukan ini, bukankah Iblis telah mencapai tujuannya? (Ya.)" ("Tuhan itu Sendiri, Tuhan yang Unik V" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia").Setelah membaca bagian firman Tuhan ini, saudari tersebut memberikan persekutuan, dengan mengatakan: "Firman Tuhan berbicara dengan jelas tentang akar penyebab mengapa kita tunduk pada ikatan uang, dan firman ini memberi tahu kita konsekuensi serius yang menanti kita jika kita mengejar uang. Setelah manusia digoda dan dirusak oleh Iblis, Iblis menggunakan segala macam falsafah dan aksioma seperti 'Uang adalah yang utama,' 'Uang bukan segalanya, tetapi tanpa uang, engkau tidak dapat berbuat apa-apa,' 'Manusia mati demi uang; burung mati demi makanan' dan 'Uang membuat dunia berputar' untuk menyesatkan dan merusak kita. Setelah menerima falsafah dan aksioma seperti ini, kita memandang uang sebagai hal yang lebih penting daripada yang lain, menganggap bahwa kita hanya bisa mendapatkan pijakan yang kuat di tengah masyarakat jika kita memiliki uang, dan kemudian kita akan dapat menikmati kehidupan yang kaya. Karena itu kita berjuang dan berusaha serta bekerja sangat keras demi mendapatkan uang, dan semakin lama kita menjadi makin rakus. Ketika kita memiliki uang, kita menginginkan lebih banyak uang, dan tanpa menyadarinya kita tenggelam menjadi hamba uang. Kita menghabiskan seluruh waktu kita demi menghasilkan uang, menyia-nyiakan kesehatan tubuh kita, dan kita tidak mengejar jalan yang benar padahal kita sangat tahu bahwa itu adalah jalan yang benar. Kemudian kita tidak lagi merasa ingin menyembah Tuhan atau berusaha hidup dalam kehidupan yang bermakna. Dari sini, kita dapat melihat bahwa Iblis menggunakan aksioma kehidupan yang jahat ini untuk merusak dan mencelakakan kita, menjerat kita sepenuhnya dalam jaringnya, dan dengan demikian membuat kita menyangkal keberadaan Tuhan, mengingkari kedaulatan Tuhan, menjauhi Dia dan mengkhianati-Nya, dan menjadi sepenuhnya berada di bawah kendalinya dan diikat olehnya sehingga kita kehilangan keselamatan Tuhan—inilah tujuan utama Iblis untuk merusak manusia. Namun jika kita tidak memiliki kebenaran, kita tidak dapat memahami siasat curang Iblis, tetapi hanya akan dikendalikan sepenuhnya. Ketika ini berlangsung, kita menjadi makin jauh dari Tuhan, dan ketika pekerjaan Tuhan berakhir, penyesalan sudah terlambat. Kita harus menghargai kesempatan yang kita miliki hari ini untuk diselamatkan oleh Tuhan! Meskipun Iblis membahayakan dan merusak kita dengan cara-cara seperti itu, Tuhan selalu ada di sana, diam-diam menyelamatkan kita. Ketika kita terjerat dalam jaring uang dan tidak bisa keluar, Tuhan membangkitkan hati kita yang mati rasa dengan menangani dan mendisiplinkan kita, membuat kita mampu menenangkan hati dan berusaha memahami kehendak-Nya. Secara lahiriah, mobil mogok tampaknya seperti hal yang buruk, tetapi secara batiniah tersembunyi kasih dan keselamatan Tuhan bagimu!"Melalui penyingkapan firman Tuhan dan persekutuan saudariku, akhirnya aku mengerti bahwa aku sudah menganggap uang sangat penting, sehingga aku tidak memperhatikan kesehatanku sendiri demi uang dan aku bahkan menjauhi Tuhan. Ternyata semua ini adalah akibat tunduk pada ikatan dan bahaya dari aksioma kehidupan Iblis, dan aku berpikir betapa benarnya hal ini. Sebab, semasa masih kecil, aku telah merasakan kepahitan karena tidak mempunyai uang dan dipandang rendah oleh orang lain, dan aku telah menerima falsafah dan aksioma Iblis, seperti "Uang adalah yang utama" dan "Uang bukan segalanya, tetapi tanpa uang, engkau tidak bisa berbuat apa-apa," aku percaya bahwa uang dapat menyelesaikan masalah apa pun dan aku telah bertekad bulat untuk menjadi kaya, jadi, tidak peduli seberapa keras atau melelahkan pekerjaanku, aku tidak peduli sama sekali, bahkan jika aku kehilangan kesehatanku sendiri. Khususnya, setelah menerima pekerjaan Tuhan di akhir zaman, aku tahu bahwa Tuhan sedang mengungkapkan firman-Nya dan melakukan pekerjaan penghakiman-Nya untuk mentahirkan dan mengubah manusia, dan pada akhirnya menuntun manusia ke tempat tujuan mereka yang indah. Aku juga tahu bahwa tahap pekerjaan ini adalah tahap terakhir dari pekerjaan Tuhan untuk menyelamatkan umat manusia, dan bahwa pekerjaan ini sangat penting bagi kita untuk memperoleh keselamatan. Namun aku belum menghargai keselamatan Tuhan, tetapi hanya pernah berpikir untuk mendapatkan lebih banyak uang dan memiliki hal-hal materi yang baik untuk dinikmati, dan akhirnya aku tidak dapat menghadiri pertemuan ibadah secara rutin untuk menyembah Tuhan, dan hatiku lama-kelamaan makin jauh dari Tuhan. Selama waktu ini, Tuhan telah menolongku melalui saudara-saudariku, dan Dia telah memberiku peringatan melalui mobilku yang sering mengalami masalah, tetapi aku tidak memperhatikan kehendak Tuhan, tetapi hanya bertindak dengan sengaja atas inisiatifku sendiri dan memberontak melawan Tuhan. Apakah semua ini tidak disebabkan karena mengandalkan aksioma kehidupan Iblis untuk menjalani hidup? Jika bukan karena mesin mobilku mogok, aku tidak akan terlibat dalam refleksi diri dan mencari kehendak Tuhan, dan bukankah dengan demikian aku akan kehilangan kesempatanku untuk mendapatkan keselamatan Tuhan dan menghabiskan sisa hidupku dalam penyesalan? Aku telah begitu dirusak oleh falsafah Iblis tersebut! Syukur kepada Tuhan, karena tuntunan firman Tuhan yang memampukanku untuk melihat bahwa falsafah dan aksioma itu tidak lain adalah kekeliruan sesat yang dimaksudkan untuk menipu dan merusak manusia, dan aku melihat dengan jelas maksud jahat Iblis untuk merusak manusia. Sejak itu, aku tidak lagi mau ditipu atau diikat oleh Iblis, tetapi aku ingin kembali ke hadapan Tuhan sekali lagi dan menghadiri pertemuan ibadah dengan sungguh-sungguh, mengejar kebenaran dan menyembah Tuhan.Kemudian, aku menjadwal ulang waktuku: aku mencari dua malam setiap minggu untuk berkumpul dengan saudara-saudari untuk bersekutu tentang firman Tuhan dan, bila tidak menghadiri pertemuan, aku akan meluangkan waktu untuk membaca firman Tuhan dan merenungkan kebenaran. Beberapa waktu kemudian, hatiku merasa tenang dan damai, hubunganku dengan Tuhan lama-kelamaan makin dekat, dan yang mengejutkanku adalah bahwa penyakitku juga mulai membaik.Aku Berjuang untuk Menyingkirkan Ikatan Uang dan Mulai Menghargai Otoritas TuhanTidak lama kemudian, Tuhan menguji aku. Suatu hari, gereja mengatur tugas bagiku yang membutuhkan beberapa hari untuk mengerjakannya. Aku tahu bahwa Tuhan meninggikan aku dengan memberiku tugas ini dan aku benar-benar ingin memulainya, tetapi waktu yang diperlukan untuk melakukan tugas ini kebetulan berbenturan dengan pekerjaanku. Aku memikirkan tentang bagaimana aku harus melunasi pembayaran hipotek dan biaya sekolah anak-anakku, dan dalam dua hari aku harus memberi kepada anak-anakku uang sekolah mereka. Jika tidak bekerja selama beberapa hari, aku tidak akan mempunyai cukup uang untuk membayar semuanya. Saat itu aku merasa berada dalam posisi yang agak pelik dan aku tidak tahu apa yang terbaik yang harus kulakukan, jadi aku berdoa kepada Tuhan dan memberitahukan kesulitanku kepada-Nya. Setelah itu, aku membaca bagian firman Tuhan "Tuhan itu Sendiri, Tuhan yang Unik III": "Hal pertama yang harus mereka mengerti, ketika menginjakkan kaki di bumi, adalah dari mana datangnya manusia? Mengapa manusia hidup? Siapa yang mengatur nasib manusia? Siapa yang memberikan dan memiliki kedaulatan atas keberadaan manusia? Hal-hal inilah aset kehidupan yang sebenarnya, inilah dasar esensial bagi kelangsungan hidup manusia." "Jika seseorang memandang hidup sebagai kesempatan untuk mengalami kedaulatan Sang Pencipta dan mengenal otoritas-Nya, jika seseorang melihat hidupnya sebagai kesempatan langka untuk melakukan tugasnya sebagai manusia ciptaan dan memenuhi misinya, ia pasti akan memiliki pandangan yang benar akan hidup, akan menjalani hidup yang diberkati dan dibimbing oleh Sang Pencipta, akan berjalan dalam terang Sang Pencipta, mengenal kedaulatan Sang Pencipta, tunduk pada kuasa-Nya, menjadi saksi akan mukjizat dan otoritas-Nya" (Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia).Setelah membaca firman Tuhan, aku memahami bahwa Tuhan menciptakan umat manusia dan memberi kita napas kehidupan, bahwa Dia memberi kepada kita segala yang kita butuhkan untuk bertahan hidup dan memegang kedaulatan atas nasib kita, dan Dia mengungkapkan kebenaran untuk menuntun kita ke jalan yang benar dalam kehidupan. Sebagai makhluk ciptaan, kita harus melakukan tugas makhluk ciptaan di hadapan Tuhan untuk membalas kasih-Nya, kita harus mengalami pekerjaan-Nya dalam kehidupan nyata kita, dan mengalami serta mengetahui otoritas Tuhan. Mengingat kembali diriku yang dahulu, aku selalu mengandalkan upaya subjektif dan ambisi liarku sendiri untuk menempuh jalan manusia duniawi dalam mengejar uang, dan satu-satunya yang kudapatkan adalah penderitaan, dan aku mengalami kehilangan dalam hidupku. Sekarang, aku tidak bisa menjadi seperti dahulu lagi—aku harus mengejar kebenaran, mencari kehendak Tuhan dalam berbagai situasi yang kuhadapi setiap hari, melakukan firman Tuhan dan tunduk pada kedaulatan Tuhan, karena hanya inilah jalan yang benar dalam kehidupan dan hanya pengejaran seperti inilah yang bisa mendapatkan pujian Tuhan. Setelah sampai pada pemahaman ini, aku berdoa kepada Tuhan: "Ya Tuhan! Aku sekarang mengerti kehendak-Mu. Aku ingin taat dan melaksanakan tugasku. Aku juga ingin bertekad bulat di hadapan-Mu, bahwa apa pun situasi yang mungkin kuhadapi di masa mendatang, aku akan selalu mencari kebenaran dari dalam firman-Mu, melakukan sesuai dengan persyaratan-Mu, tunduk pada kedaulatan dan pengaturan-Mu dan melaksanakan tugasku sebagai makhluk ciptaan. Aku memohon agar Engkau menuntunku." Setelah berdoa, hatiku menjadi tenang dan aku memutuskan untuk melakukan tugasku dengan sungguh-sungguh.…………Membaca teks lengkapnya: -
Kisah Nyata Kristen: Aku Mungkin Tidak Kaya, tetapi Aku Sangat BeruntungOleh Bong, FilipinaAku Ingin Menjadi Kaya"Kepala sekolah, tolong beri anakku kesempatan dan biarkan dia mengikuti ujian!" Mata ibuku memohon belas kasihan kepala sekolah saat dia berbicara dengan suara yang sedikit bergetar.Dengan air muka tetap serius, kepala sekolah berkata: "Tidak, sekolah punya peraturan. Setiap anak hanya boleh mengikuti ujian apabila biaya ujian telah dibayarkan!"Ibuku tampak malu dan memohon kepada kepala sekolah, katanya: "Kepala sekolah, aku juga tahu keadaan sangat sulit bagi Anda di sekolah, tetapi aku punya banyak anak dan kami baru saja akan mengusahakan. Kami benar-benar tidak mampu membayar biaya ujian. Bagaimana kalau aku menulis Surat Pernyataan Berutang (SPB) kepada sekolah, lalu Anda mengizinkan putraku mengikuti ujian, dan aku akan mencari cara untuk membayar utangku kepada Anda sesegera mungkin …."Kepala sekolah menatap ibuku dan berpikir sejenak. Tampak seolah-olah dia tidak punya banyak pilihan, lalu berkata: "Oke, baiklah!"…………Aku tidak akan pernah lupa sewaktu aku melanjutkan ke SMA ketika keluargaku tidak mampu membayar biaya ujian, ibuku memohon kepada kepala sekolah agar mengizinkan aku mengikuti ujian dan dia harus menulis SPB. Aku merasa sangat marah saat itu. Dalam masyarakat di mana uang yang berkuasa, jika engkau tidak punya uang, engkau tidak dapat mencapai apa pun, dan diam-diam aku bertekad bulat: Setelah tumbuh dewasa, aku akan bekerja keras untuk menghasilkan uang, menjadi kaya dan mengubah suratan nasibku sendiri!Kehidupan yang Menukar Kesehatan Demi UangSetelah lulus SMA, untuk mewujudkan impianku sesegera mungkin, aku mendaftar di sekolah kejuruan dan belajar reparasi mobil. Ketika belajar di sekolah tersebut, aku berusaha keras untuk belajar pengetahuan spesialis. Ketika teman-teman sekelasku pergi menikmati waktu luang mereka di siang hari, aku masih belajar keterampilan mesin; ketika semua orang pergi tidur di malam hari, aku terjaga membaca dan belajar keras.Setelah lulus, aku pergi ke Manila untuk mengembangkan keterampilanku. Namun, karena tidak memiliki koneksi dan sertifikat kelulusanku bukan dari sekolah terkenal, ketika aku melamar pekerjaan, tidak ada yang mau mempekerjakan aku. Aku merasa tidak punya pilihan lain selain bekerja di perusahaan reparasi mobil milik pamanku. Untuk menghasilkan lebih banyak uang, aku memperbaiki mobil dan membantu pamanku menghitung laporan keuangannya. Aku bekerja setiap hari dari dini hari hingga senja, dan aku masih sering bekerja lembur ketika orang lain selesai dan pulang.Setelah menikah, aku memiliki tiga anak. Aku tidak ingin anak-anakku menjadi miskin seperti aku dulu, jadi aku bekerja lebih keras. Aku bekerja setiap hari dari jam 7 pagi sampai jam 7 malam, dan setelah bekerja aku mengendarai tuk-tuk listrik, mengangkut orang-orang berkeliling demi menghasilkan uang tambahan. Akhirnya aku pulang sekitar jam 2 pagi dan hanya tidur sekitar tiga atau empat jam setiap malam. Bukan hanya itu, aku juga menggunakan cuti empat hari yang kumiliki setiap bulan untuk bekerja sambilan sebagai sopir taksi demi menghasilkan sedikit uang tambahan. Sekalipun aku sudah menjadi orang yang percaya kepada Tuhan, aku hanya menghadiri pertemuan ibadah ketika aku memiliki waktu luang dan terkadang aku merasa berutang kepada Tuhan. Namun ketika aku melihat keluargaku tidak hidup sejahtera, aku akan mulai bekerja keras lagi membanting tulang demi mendapatkan uang.Setelah beberapa tahun bekerja keras, akhirnya aku bisa membeli rumah dan mobil. Namun, yang tidak begitu hebat adalah, karena aku telah bekerja di malam hari begitu lama dan terlalu memaksakan diri, aku mengalami tekanan darah tinggi. Dokter berpesan agar aku pergi berobat dan tidak lagi terlalu banyak bekerja. Aku berpikir dalam hatiku: "Kondisi kesehatanku sudah tidak bagus dan jika nanti aku tidak bisa mencari uang, apakah itu berarti bahwa harapanku untuk menjadi kaya sekarang pupus?" Memikirkan hal ini, aku merasa putus asa. Namun, aku tidak mau menyerah begitu saja, jadi aku pergi berobat dan melanjutkan mencari uang baik siang maupun malam. Baru ketika aku benar-benar merasa tidak sehat secara fisik, aku terpaksa tinggal di rumah dan tidak mengeluarkan mobil. Tetapi setiap kali beristirahat, aku menyadari kalau aku akan menghasilkan uang lebih sedikit dan kemudian aku menjadi enggan untuk beristirahat, sehingga aku menahan penyakitku dan terus mengemudi. Hingga akhirnya, penyakitku memburuk dan aku menjadi sangat lemah sehingga tidak bisa bekerja lagi. Aku tidak punya pilihan selain berhenti bekerja dan beristirahat, serta mengandalkan obat agar tetap bertahan ….Aku Mendengar Panggilan TuhanSuatu hari di bulan Juni 2016, Pendeta Jess dan istrinya datang menemui kami. Mereka mengatakan bahwa Tuhan Yesus telah datang kembali, dan bahwa Dia sedang melakukan tahap pekerjaan yang baru. Mereka berkata bahwa Tuhan Yesus telah melakukan pekerjaan penebusan di Zaman Kasih Karunia dan, meskipun dosa-dosa kita telah diampuni oleh Tuhan, karena kita telah sedemikian dirusak oleh Iblis, natur berdosa kita yang jahat seperti Iblis tetap berakar dalam diri kita. Mereka berkata bahwa di bawah kekuasaan sifat berdosa kita, kita acap kali mampu berbuat dosa dan melawan Tuhan, dan kita diikat serta dikekang oleh dosa. Mengingat kebutuhan kita sebagai manusia yang rusak, pada akhir zaman Tuhan sekali lagi menjadi manusia untuk melakukan tahap pekerjaan penghakiman dan pentahiran manusia oleh firman, dan tahap pekerjaan ini dilakukan di atas dasar pekerjaan penebusan. Tuhan datang untuk menyelamatkan kita sepenuhnya dari ikatan dosa, dan ini sepenuhnya merupakan penggenapan nubuat Alkitab "Penghakiman harus dimulai di rumah Tuhan" (1 Petrus 4:17).
Mendengar persekutuan Pendeta Jess, hatiku merasa sangat tersentuh. Aku memikirkan tentang bagaimana, meskipun telah percaya kepada Tuhan selama bertahun-tahun, aku tidak pernah lepas dari ikatan dosa, tetapi tetap mengikuti tren sosial dan mengejar kehidupan yang berlimpah materi …. Sesekali, aku merasa berutang kepada Tuhan, tetapi aku tidak bisa mengendalikan diriku—aku benar-benar memiliki dosa yang berakar dalam diriku! Makin aku mendengarkan, makin aku merasa bahwa persekutuan Pendeta Jess berasal dari Tuhan, jadi kuputuskan untuk mendengarkannya dengan sungguh-sungguh. Pendeta Jess kemudian bersaksi kepadaku tentang pekerjaan Tuhan Yesus yang datang kembali—Tuhan yang Mahakuasa—dan dia mengadakan persekutuan tentang aspek-aspek kebenaran seperti tiga tahap pekerjaan Tuhan untuk menyelamatkan umat manusia, misteri inkarnasi, bagaimana Tuhan melakukan pekerjaan penghakiman-Nya di akhir zaman untuk mentahirkan dan mengubah manusia serta bagaimana Tuhan menentukan tempat tujuan akhir umat manusia. Aku menjadi yakin bahwa Tuhan Yang Mahakuasa adalah Tuhan Yesus yang datang kembali, dan aku dan istriku dengan senang hati menerima pekerjaan Tuhan Yang Mahakuasa di akhir zaman.Tepat setelah menerima pekerjaan Tuhan di akhir zaman, dengan bersemangat aku menghadiri pertemuan ibadah, aku membaca firman Tuhan setiap kali aku mempunyai waktu, aku merasa sangat dekat dengan Tuhan dan kondisi rohku makin lebih baik. Tetapi setelah beberapa saat, melihat bahwa keluargaku membutuhkan uang untuk banyak hal, aku berpikir aku harus mulai menghasilkan uang dengan segera. Itu semua tidak akan terwujud jika tidak mempunyai uang, jadi aku mulai bekerja keras sekali lagi. Kadang-kadang, pekerjaan berbenturan dengan pertemuan gereja dan aku malah memilih untuk mencari uang, jadi aku tidak rutin menghadiri pertemuan ibadah. Istriku dan saudara-saudariku di gereja berkali-kali menyampaikan persekutuan kepadaku, dengan mengatakan bahwa pekerjaan akhir zaman adalah tahap terakhir pekerjaan Tuhan untuk menyelamatkan umat manusia. Kita harus berfokus untuk mengejar kebenaran, kata mereka, kesenangan fisik adalah hampa, memiliki makanan dan pakaian sudah cukup, dan tidak apa-apa bekerja hanya pada jam-jam normal. Mereka menyuruhku untuk tidak mengejar kekayaan dan kesenangan materi begitu banyak sehingga aku bahkan tidak mempunyai waktu untuk menghadiri pertemuan ibadah, karena jika demikian aku mungkin akan kehilangan kesempatan untuk mendapatkan kebenaran. Tetapi hatiku sudah dikuasai uang dan aku tidak menggubris apa yang dikatakan saudara-saudariku; aku terus bekerja keras untuk mendapatkan uang.Sesudahnya, aku bekerja di perusahaan pamanku di siang hari dan mengendarai taksi di malam hari untuk menghasilkan sedikit tambahan uang. Sebulan berlalu dengan cara ini, lalu dua bulan, kemudian tiga bulan…. Untuk menghasilkan uang, aku terus-menerus hiruk-pikuk dan sibuk. Selama waktu ini, taksiku mengalami masalah hampir setiap hari, tetapi aku tidak pernah berdoa kepada Tuhan atau menenangkan rohku untuk melakukan refleksi diri supaya mengetahui alasan mengapa demikian. Kemudian pada suatu hari, aku baru saja hendak mengeluarkan taksiku ketika mesinnya mogok. Berpikir bahwa kerusakan besar seperti itu tidak akan dapat diperbaiki dengan cepat, aku pulang ke rumah. Sambil berjalan pulang, aku tidak bisa menahan diri untuk bertanya-tanya: "Sejak aku mulai menyibukkan diriku untuk menghasilkan uang, aku belum menghadiri pertemuan ibadah rutin, dan aku merasa makin jauh dari Tuhan. Setiap hari, kepalaku dipenuhi dengan pemikiran tentang bagaimana menghasilkan lebih banyak uang dan bagaimana menjalani kehidupan materi yang lebih baik. Aku tidak pernah memikirkan bagaimana aku bisa menghadiri pertemuan ibadah atau bagaimana aku bisa membaca lebih banyak firman Tuhan dan memahami lebih banyak kebenaran. Mesin mobilku tiba-tiba mogok hari ini—mungkinkah kehendak baik Tuhan ada di balik kejadian ini?"Firman Tuhan Menuntunku untuk Melihat Kejahatan IblisSetelah tiba di rumah, aku melihat bahwa istriku tidak berada di sana, jadi aku pergi mencarinya ke gereja. Kebetulan aku bertemu dengan dua saudari dan, ketika mereka mengetahui bahwa mobilku bermasalah, mereka bersekutu denganku, kata mereka: "Saudaraku, engkau seorang Kristen, dan saat menghadapi masalah, engkau seharusnya menerima bahwa semua itu adalah dari Tuhan! Engkau telah bekerja keras terus-menerus untuk menghasilkan uang, sampai sekarang sudah cukup lama engkau tidak menghadiri pertemuan ibadah secara rutin dan hatimu semakin menjauh dari Tuhan. Mobilmu rusak hari ini dan kehendak baik Tuhan ada di balik kejadian ini. Engkau harus menenangkan hatimu dan mencari dengan tekun. Pikirkan baik-baik: Apakah uang diperoleh hanya karena kita ingin memperolehnya? Apakah kita benar-benar mampu mengendalikan nasib kita sendiri? Jika kita memahami pertanyaan-pertanyaan ini, kita akan tahu pendekatan apa yang harus kita ambil terhadap uang." Mereka kemudian memintaku membaca satu bagian firman Tuhan: "Nasib manusia dikendalikan oleh tangan Tuhan. Engkau tidak mampu mengendalikan dirimu sendiri: Meskipun selalu terburu-buru dan menyibukkan diri sendiri, manusia tetap tidak mampu mengendalikan dirinya sendiri. Jika engkau dapat mengetahui prospekmu sendiri, jika engkau dapat mengendalikan nasibmu sendiri, apakah engkau masih menjadi makhluk?" ("Memulihkan Kehidupan Normal Manusia dan Membawanya ke Tempat Tujuan yang Mengagumkan" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"). Setelah membaca bagian ini, kedua saudari itu kemudian memberiku persekutuan tentang aspek kebenaran kedaulatan Tuhan atas nasib umat manusia. Setelah mendengarkan ini, aku merasa dipenuhi dengan segala macam emosi yang berbeda: "Ya," pikirku. "Kita umat manusia adalah ciptaan Tuhan, dan nasib kita dikuasai dan dikendalikan oleh Tuhan. Tuhan juga menentukan sejak semula berapa banyak uang yang dapat kita hasilkan seumur hidup kita, tetapi aku tidak mengakui kenyataan kedaulatan Tuhan atas nasib umat manusia, tetapi sebaliknya hanya berfokus menghasilkan uang dengan kerja kerasku sendiri, menjadikan diriku kaya, mencoba mengubah nasibku sendiri dan berjuang membebaskan diri dari aturan Tuhan—aku benar-benar pemberontak dan bebal!" Setelah menyadari hal ini, aku berkata pada kedua saudari itu, "Sejak aku berhenti menghadiri pertemuan ibadah secara rutin demi menghasilkan uang, aku sudah menghabiskan semua uang yang kuperoleh dengan mengemudikan taksi untuk memperbaiki mobil. Kali ini, uang yang harus kukeluarkan untuk mesin baru adalah semua uang yang kuperoleh dengan mengemudikan taksi selama tiga bulan terakhir. Ini membuat aku benar-benar menghargai bahwa kita benar-benar tidak dapat mengendalikan nasib kita sendiri, dan apakah aku hidup miskin atau kaya atau berapa banyak uang yang kumiliki tidak ditentukan semata-mata oleh upaya sepihakku, tetapi lebih ditentukan oleh kedaulatan Tuhan. Tuhan memakai masalah mesin mobilku mogok hari ini untuk mendesakku agar kembali ke hadapan-Nya, membuatku mengenali kedaulatan-Nya dan agar aku tidak lagi bergumul sendiri. Aku harus belajar bagaimana menaati Tuhan dan menjadikan pengejaran akan kebenaran sebagai prioritasku. Satu-satunya hal yang benar untuk dilakukan adalah memercayakan perihal mencari uang ke dalam tangan Tuhan!"Setelah mendengar aku mengatakan ini, salah seorang saudari berkata, "Syukur kepada Tuhan! Saudaraku, bahwa engkau dapat memahami hal ini, itu adalah karena tuntunan Tuhan! Tetapi jika kita ingin benar-benar bebas dari ikatan yang dikenakan uang pada kita, kita harus memiliki kepekaan mengenai cara-cara dan siasat curang yang Iblis pakai dengan menggunakan uang untuk merusak dan membahayakan kita, kita harus mendapatkan pemahaman yang menyeluruh tentang kejahatan dan kekejian si Iblis serta memahami upaya sungguh-sungguh yang dilakukan Tuhan demi menyelamatkan kita. Marilah kita membaca bagian lain dari firman Tuhan yang berkaitan dengan aspek ini." Sambil mengatakannya, saudari itu membacakan bagiku satu bagian firman Tuhan: "'Uang membuat dunia berputar' adalah filsafat Iblis, dan filsafat ini berlaku di tengah seluruh umat manusia, di tengah setiap masyarakat manusia. Engkau dapat mengatakan bahwa itu adalah sebuah tren karena pepatah tersebut sudah ditanamkan ke dalam hati setiap orang dan kini melekat dalam hati mereka. Pada mulanya orang tidak menerima pepatah ini, lalu menjadi terbiasa dengannya sehingga ketika mereka berhubungan dengan kehidupan nyata, mereka secara bertahap menerima filsafat ini secara diam-diam, mengakui keberadaannya dan akhirnya, mereka sendiri menyetujuinya …. Tidakkah engkau semua merasa bahwa engkau tidak dapat bertahan hidup di dunia ini tanpa uang, bahwa bahkan suatu hari akan mustahil? Status orang didasarkan pada berapa banyak uang yang mereka miliki dan begitu pula kehormatan mereka. Punggung orang miskin membungkuk malu, sementara orang kaya menikmati status tinggi mereka. Mereka berdiri tegak dan bangga, berbicara keras-keras dan hidup dengan sombong …. Sejauh mana pepatah ini memengaruhimu? Engkau mungkin tahu jalan yang benar, engkau mungkin tahu kebenaran, tetapi engkau tidak berdaya untuk menempuhnya. Engkau mungkin tahu dengan jelas firman Tuhan, tetapi engkau tidak mau membayar harga, tidak mau menderita untuk membayar harga. Sebaliknya, engkau lebih suka mengorbankan masa depan dan takdirmu sendiri untuk selalu melawan Tuhan. Tidak peduli apa yang Tuhan firmankan, tidak peduli apa yang Tuhan lakukan, tidak peduli sejauh mana engkau menyadari bahwa cinta Tuhan kepadamu sangat dalam dan luar biasa, dengan keras kepala engkau masih akan tetap menempuh jalan itu dan membayar harga demi pepatah ini. Artinya, pepatah ini sudah mengendalikan perilakumu dan pikiranmu, dan engkau lebih suka membiarkan nasibmu dikendalikan oleh pepatah ini daripada meninggalkannya. Orang melakukan ini, mereka dikendalikan oleh pepatah ini dan dipengaruhi olehnya. Bukankah ini akibat dari Iblis yang merusak manusia? Bukankah filsafat dan watak jahat Iblis ini sudah mengakar di dalam hatimu? Jika engkau melakukan ini, bukankah Iblis telah mencapai tujuannya? (Ya.)" ("Tuhan itu Sendiri, Tuhan yang Unik V" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia").Setelah membaca bagian firman Tuhan ini, saudari tersebut memberikan persekutuan, dengan mengatakan: "Firman Tuhan berbicara dengan jelas tentang akar penyebab mengapa kita tunduk pada ikatan uang, dan firman ini memberi tahu kita konsekuensi serius yang menanti kita jika kita mengejar uang. Setelah manusia digoda dan dirusak oleh Iblis, Iblis menggunakan segala macam falsafah dan aksioma seperti 'Uang adalah yang utama,' 'Uang bukan segalanya, tetapi tanpa uang, engkau tidak dapat berbuat apa-apa,' 'Manusia mati demi uang; burung mati demi makanan' dan 'Uang membuat dunia berputar' untuk menyesatkan dan merusak kita. Setelah menerima falsafah dan aksioma seperti ini, kita memandang uang sebagai hal yang lebih penting daripada yang lain, menganggap bahwa kita hanya bisa mendapatkan pijakan yang kuat di tengah masyarakat jika kita memiliki uang, dan kemudian kita akan dapat menikmati kehidupan yang kaya. Karena itu kita berjuang dan berusaha serta bekerja sangat keras demi mendapatkan uang, dan semakin lama kita menjadi makin rakus. Ketika kita memiliki uang, kita menginginkan lebih banyak uang, dan tanpa menyadarinya kita tenggelam menjadi hamba uang. Kita menghabiskan seluruh waktu kita demi menghasilkan uang, menyia-nyiakan kesehatan tubuh kita, dan kita tidak mengejar jalan yang benar padahal kita sangat tahu bahwa itu adalah jalan yang benar. Kemudian kita tidak lagi merasa ingin menyembah Tuhan atau berusaha hidup dalam kehidupan yang bermakna. Dari sini, kita dapat melihat bahwa Iblis menggunakan aksioma kehidupan yang jahat ini untuk merusak dan mencelakakan kita, menjerat kita sepenuhnya dalam jaringnya, dan dengan demikian membuat kita menyangkal keberadaan Tuhan, mengingkari kedaulatan Tuhan, menjauhi Dia dan mengkhianati-Nya, dan menjadi sepenuhnya berada di bawah kendalinya dan diikat olehnya sehingga kita kehilangan keselamatan Tuhan—inilah tujuan utama Iblis untuk merusak manusia. Namun jika kita tidak memiliki kebenaran, kita tidak dapat memahami siasat curang Iblis, tetapi hanya akan dikendalikan sepenuhnya. Ketika ini berlangsung, kita menjadi makin jauh dari Tuhan, dan ketika pekerjaan Tuhan berakhir, penyesalan sudah terlambat. Kita harus menghargai kesempatan yang kita miliki hari ini untuk diselamatkan oleh Tuhan! Meskipun Iblis membahayakan dan merusak kita dengan cara-cara seperti itu, Tuhan selalu ada di sana, diam-diam menyelamatkan kita. Ketika kita terjerat dalam jaring uang dan tidak bisa keluar, Tuhan membangkitkan hati kita yang mati rasa dengan menangani dan mendisiplinkan kita, membuat kita mampu menenangkan hati dan berusaha memahami kehendak-Nya. Secara lahiriah, mobil mogok tampaknya seperti hal yang buruk, tetapi secara batiniah tersembunyi kasih dan keselamatan Tuhan bagimu!"Melalui penyingkapan firman Tuhan dan persekutuan saudariku, akhirnya aku mengerti bahwa aku sudah menganggap uang sangat penting, sehingga aku tidak memperhatikan kesehatanku sendiri demi uang dan aku bahkan menjauhi Tuhan. Ternyata semua ini adalah akibat tunduk pada ikatan dan bahaya dari aksioma kehidupan Iblis, dan aku berpikir betapa benarnya hal ini. Sebab, semasa masih kecil, aku telah merasakan kepahitan karena tidak mempunyai uang dan dipandang rendah oleh orang lain, dan aku telah menerima falsafah dan aksioma Iblis, seperti "Uang adalah yang utama" dan "Uang bukan segalanya, tetapi tanpa uang, engkau tidak bisa berbuat apa-apa," aku percaya bahwa uang dapat menyelesaikan masalah apa pun dan aku telah bertekad bulat untuk menjadi kaya, jadi, tidak peduli seberapa keras atau melelahkan pekerjaanku, aku tidak peduli sama sekali, bahkan jika aku kehilangan kesehatanku sendiri. Khususnya, setelah menerima pekerjaan Tuhan di akhir zaman, aku tahu bahwa Tuhan sedang mengungkapkan firman-Nya dan melakukan pekerjaan penghakiman-Nya untuk mentahirkan dan mengubah manusia, dan pada akhirnya menuntun manusia ke tempat tujuan mereka yang indah. Aku juga tahu bahwa tahap pekerjaan ini adalah tahap terakhir dari pekerjaan Tuhan untuk menyelamatkan umat manusia, dan bahwa pekerjaan ini sangat penting bagi kita untuk memperoleh keselamatan. Namun aku belum menghargai keselamatan Tuhan, tetapi hanya pernah berpikir untuk mendapatkan lebih banyak uang dan memiliki hal-hal materi yang baik untuk dinikmati, dan akhirnya aku tidak dapat menghadiri pertemuan ibadah secara rutin untuk menyembah Tuhan, dan hatiku lama-kelamaan makin jauh dari Tuhan. Selama waktu ini, Tuhan telah menolongku melalui saudara-saudariku, dan Dia telah memberiku peringatan melalui mobilku yang sering mengalami masalah, tetapi aku tidak memperhatikan kehendak Tuhan, tetapi hanya bertindak dengan sengaja atas inisiatifku sendiri dan memberontak melawan Tuhan. Apakah semua ini tidak disebabkan karena mengandalkan aksioma kehidupan Iblis untuk menjalani hidup? Jika bukan karena mesin mobilku mogok, aku tidak akan terlibat dalam refleksi diri dan mencari kehendak Tuhan, dan bukankah dengan demikian aku akan kehilangan kesempatanku untuk mendapatkan keselamatan Tuhan dan menghabiskan sisa hidupku dalam penyesalan? Aku telah begitu dirusak oleh falsafah Iblis tersebut! Syukur kepada Tuhan, karena tuntunan firman Tuhan yang memampukanku untuk melihat bahwa falsafah dan aksioma itu tidak lain adalah kekeliruan sesat yang dimaksudkan untuk menipu dan merusak manusia, dan aku melihat dengan jelas maksud jahat Iblis untuk merusak manusia. Sejak itu, aku tidak lagi mau ditipu atau diikat oleh Iblis, tetapi aku ingin kembali ke hadapan Tuhan sekali lagi dan menghadiri pertemuan ibadah dengan sungguh-sungguh, mengejar kebenaran dan menyembah Tuhan.Kemudian, aku menjadwal ulang waktuku: aku mencari dua malam setiap minggu untuk berkumpul dengan saudara-saudari untuk bersekutu tentang firman Tuhan dan, bila tidak menghadiri pertemuan, aku akan meluangkan waktu untuk membaca firman Tuhan dan merenungkan kebenaran. Beberapa waktu kemudian, hatiku merasa tenang dan damai, hubunganku dengan Tuhan lama-kelamaan makin dekat, dan yang mengejutkanku adalah bahwa penyakitku juga mulai membaik.Aku Berjuang untuk Menyingkirkan Ikatan Uang dan Mulai Menghargai Otoritas TuhanTidak lama kemudian, Tuhan menguji aku. Suatu hari, gereja mengatur tugas bagiku yang membutuhkan beberapa hari untuk mengerjakannya. Aku tahu bahwa Tuhan meninggikan aku dengan memberiku tugas ini dan aku benar-benar ingin memulainya, tetapi waktu yang diperlukan untuk melakukan tugas ini kebetulan berbenturan dengan pekerjaanku. Aku memikirkan tentang bagaimana aku harus melunasi pembayaran hipotek dan biaya sekolah anak-anakku, dan dalam dua hari aku harus memberi kepada anak-anakku uang sekolah mereka. Jika tidak bekerja selama beberapa hari, aku tidak akan mempunyai cukup uang untuk membayar semuanya. Saat itu aku merasa berada dalam posisi yang agak pelik dan aku tidak tahu apa yang terbaik yang harus kulakukan, jadi aku berdoa kepada Tuhan dan memberitahukan kesulitanku kepada-Nya. Setelah itu, aku membaca bagian firman Tuhan "Tuhan itu Sendiri, Tuhan yang Unik III": "Hal pertama yang harus mereka mengerti, ketika menginjakkan kaki di bumi, adalah dari mana datangnya manusia? Mengapa manusia hidup? Siapa yang mengatur nasib manusia? Siapa yang memberikan dan memiliki kedaulatan atas keberadaan manusia? Hal-hal inilah aset kehidupan yang sebenarnya, inilah dasar esensial bagi kelangsungan hidup manusia." "Jika seseorang memandang hidup sebagai kesempatan untuk mengalami kedaulatan Sang Pencipta dan mengenal otoritas-Nya, jika seseorang melihat hidupnya sebagai kesempatan langka untuk melakukan tugasnya sebagai manusia ciptaan dan memenuhi misinya, ia pasti akan memiliki pandangan yang benar akan hidup, akan menjalani hidup yang diberkati dan dibimbing oleh Sang Pencipta, akan berjalan dalam terang Sang Pencipta, mengenal kedaulatan Sang Pencipta, tunduk pada kuasa-Nya, menjadi saksi akan mukjizat dan otoritas-Nya" (Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia).Setelah membaca firman Tuhan, aku memahami bahwa Tuhan menciptakan umat manusia dan memberi kita napas kehidupan, bahwa Dia memberi kepada kita segala yang kita butuhkan untuk bertahan hidup dan memegang kedaulatan atas nasib kita, dan Dia mengungkapkan kebenaran untuk menuntun kita ke jalan yang benar dalam kehidupan. Sebagai makhluk ciptaan, kita harus melakukan tugas makhluk ciptaan di hadapan Tuhan untuk membalas kasih-Nya, kita harus mengalami pekerjaan-Nya dalam kehidupan nyata kita, dan mengalami serta mengetahui otoritas Tuhan. Mengingat kembali diriku yang dahulu, aku selalu mengandalkan upaya subjektif dan ambisi liarku sendiri untuk menempuh jalan manusia duniawi dalam mengejar uang, dan satu-satunya yang kudapatkan adalah penderitaan, dan aku mengalami kehilangan dalam hidupku. Sekarang, aku tidak bisa menjadi seperti dahulu lagi—aku harus mengejar kebenaran, mencari kehendak Tuhan dalam berbagai situasi yang kuhadapi setiap hari, melakukan firman Tuhan dan tunduk pada kedaulatan Tuhan, karena hanya inilah jalan yang benar dalam kehidupan dan hanya pengejaran seperti inilah yang bisa mendapatkan pujian Tuhan. Setelah sampai pada pemahaman ini, aku berdoa kepada Tuhan: "Ya Tuhan! Aku sekarang mengerti kehendak-Mu. Aku ingin taat dan melaksanakan tugasku. Aku juga ingin bertekad bulat di hadapan-Mu, bahwa apa pun situasi yang mungkin kuhadapi di masa mendatang, aku akan selalu mencari kebenaran dari dalam firman-Mu, melakukan sesuai dengan persyaratan-Mu, tunduk pada kedaulatan dan pengaturan-Mu dan melaksanakan tugasku sebagai makhluk ciptaan. Aku memohon agar Engkau menuntunku." Setelah berdoa, hatiku menjadi tenang dan aku memutuskan untuk melakukan tugasku dengan sungguh-sungguh.…………Membaca teks lengkapnya: