-
×
[PR]上記の広告は3ヶ月以上新規記事投稿のないブログに表示されています。新しい記事を書く事で広告が消えます。
-
X
Dokumenter Gereja Tuhan Yang Mahakuasa | Penampakan dan Pekerjaan Tuhan Yang Mahakuasa (Bagian 1)
Dua ribu tahun yang lalu, Tuhan Yesus berkata, "Bertobatlah engkau: karena Kerajaan Surga sudah dekat" (Matius 4:17). dan berjanji, "Aku segera datang" (Wahyu 22:7). Selama dua ribu tahun pengharapan, dan selama dua ribu tahun penantian ..., orang Kristen dari generasi ke generasi dengan bersemangat menantikan kedatangan Tuhan Yesus kembali. Seluruh umat manusia merindukan kedatangan Sang Juruselamat untuk membawa keselamatan penuh kepada manusia. Tepat saat dunia berada pada titik tergelapnya, saat kekuatan jahat Iblis berada pada titik terkejam dan terganas dalam penentangan mereka terhadap Tuhan, fajar menyingsing di Timur—di Tiongkok. Pada tahun 1991, tahun yang luar biasa itu, Anak manusia yang berinkarnasi, Tuhan Yang Mahakuasa, menampakkan diri di gereja-gereja rumah untuk mengungkapkan kebenaran dan melakukan pekerjaan. Di sana Dia mulai melakukan pekerjaan penghakiman yang dimulai dengan rumah Tuhan.
Film dokumenter ini terutama menceritakan sejarah yang sebenarnya tentang bagaimana Tuhan Yang Mahakuasa menampakkan diri di antara gereja-gereja rumah dan mulai melakukan pekerjaan-Nya dan mengucapkan firman-Nya. Saat umat pilihan-Nya telah menikmati firman Tuhan Yang Mahakuasa masa kini ini, mereka secara perlahan mulai memahami kebenaran, mendapatkan jalan penerapan, dan menikmati kebahagiaan dan kemerdekaan yang dibawa kepada manusia oleh Roh Kudus.
PR -
Lirik Lagu Rohani Kristen Terbaru 2019 - Hanya Ketika Tuhan Menjadi Daging, Manusia Bisa Menjadi Sahabat-NyaKetika Tuhan merendahkan diri-Nya,
menjadi daging 'tuk tinggal dengan manusia,
itulah saat mereka,
menjadi sahabat karib-Nya.
Bagaimana manusia layak jadi sahabat-Nya
s'bab Tuhan itu Roh, dan tak terselami?
Hanya dengan jadi s'perti manusia,
m'reka tahu kehendak-Nya dan didapatkan-Nya.
Tuhan berfirman, dan berkarya dalam daging,
berbagi suka, duka dan kesukaran,
dengan manusia, menjaga, tuntun m'reka,
menyucikan 'tuk t'rima berkat kes'lamatan.
Bagaimana manusia layak jadi sahabat-Nya
s'bab Tuhan itu Roh, dan tak terselami?
Hanya dengan jadi seperti manusia
m'reka tahu kehendak-Nya dan didapatkan-Nya.
Maka, manusia 'kan tahu kehendak-Nya
jadi sahabat-Nya; hanya ini caranya.
Jika, Tuhan tak berwujud, tak terlihat manusia,
tak mungkin jadi sahabat-Nya, doktrin yang kosong bukan?
Bagaimana manusia layak jadi sahabat-Nya
s'bab Tuhan itu Roh, dan tak terselami?
Hanya dengan jadi s'perti manusia
m'reka tahu kehendak-Nya dan didapatkan-Nya.
Hanya waktu Tuhan jadi daging, manusia… jadi sahabat-Nya.
dari "Ikuti Anak Domba dan Nyanyikan Lagu Baru"
-
Selama ribuan tahun, manusia telah begitu rindu untuk dapat menyaksikan kedatangan sang Juruselamat. Manusia sangat rindu melihat Yesus sang Juruselamat di atas awan putih, saat Ia sendiri turun ke antara mereka yang selama ribuan tahun telah merindukan dan mendambakan-Nya. Manusia telah merindukan agar sang Juruselamat datang dan bersatu kembali dengan umat-Nya, yakni, agar Yesus sang Juruselamat datang kembali kepada orang-orang yang telah dipisahkan dari-Nya selama ribuan tahun. Manusia berharap Ia akan melakukan lagi pekerjaan penebusan yang dahulu dilakukan-Nya di antara orang Yahudi, akan berbelas kasihan dan mengasihi manusia, akan mengampuni dosa manusia, menanggung dosa manusia, dan bahkan menanggung segala pelanggaran manusia serta membebaskan manusia dari dosa. Mereka merindukan Yesus sang Juruselamat tetap sama seperti sebelumnya—Juruselamat yang dicintai, manis, dan dipuja, yang tak pernah murka terhadap manusia, dan tak pernah mencela manusia. Juruselamat ini mengampuni dan menanggung semua dosa manusia, dan bahkan mati di atas kayu salib bagi manusia sekali lagi. Semenjak Yesus pergi, murid-murid yang mengikuti-Nya, dan semua orang kudus yang diselamatkan berkat nama-Nya, terus merindukan-Nya dan menantikan-Nya dengan penuh harap. Semua orang yang diselamatkan oleh kasih karunia Yesus Kristus selama Zaman Kasih Karunia menanti-nantikan datangnya hari kesukaan di akhir zaman, saat Yesus sang Juruselamat datang di atas awan putih dan menampakkan diri di antara manusia. Tentu saja, ini juga keinginan semua orang yang menerima nama Yesus sang Juruselamat saat ini. Di seluruh alam semesta, semua orang yang mengenal keselamatan dari Yesus sang Juruselamat sangat mendambakan kedatangan Yesus Kristus yang tiba-tiba, untuk menggenapi firman-Nya ketika berada di bumi: "Aku akan datang dengan cara yang sama seperti Aku pergi." Manusia percaya bahwa setelah penyaliban dan kebangkitan, Yesus kembali ke surga di atas awan putih, lalu mengambil tempat-Nya di sebelah kanan Yang Mahatinggi. Manusia beranggapan bahwa dengan cara yang sama, Yesus akan turun, sekali lagi di atas awan putih (awan ini mengacu pada awan yang dinaiki Yesus waktu Ia kembali ke Surga), ke antara orang-orang yang sangat mendambakan-Nya selama ribuan tahun, dan bahwa Ia akan mengambil rupa orang Yahudi dan mengenakan pakaian mereka. Setelah menampakkan diri kepada manusia, Ia akan mengaruniakan makanan kepada mereka, dan membuat aliran-aliran air hidup menyembur bagi mereka, dan akan hidup di antara manusia, penuh kasih karunia dan kasih, hidup dan nyata. Demikian seterusnya. Namun, Yesus sang Juruselamat tidak melakukan hal ini; Ia melakukan hal yang bertentangan dengan pemahaman manusia. Ia tidak datang ke antara orang-orang yang mendambakan kedatangan-Nya kembali, dan tidak menampakkan diri kepada semua manusia sembari mengendarai awan putih. Ia sudah datang, tetapi manusia tidak mengenali-Nya, dan tetap mengabaikan kedatangan-Nya. Manusia hanya menantikan-Nya tanpa tujuan, tanpa menyadari bahwa Ia telah turun di atas "awan putih" (awan yang adalah Roh-Nya, perkataan-Nya, dan seluruh watak-Nya, serta seluruh keberadaan-Nya), dan kini Ia berada di antara sekelompok pemenang yang akan dibentuk-Nya pada akhir zaman. Manusia tidak mengetahui hal ini: Walaupun Yesus, Juruselamat yang kudus itu, penuh kasih sayang dan mengasihi manusia, bagaimana mungkin Ia bekerja dalam "bait" yang didiami oleh roh-roh yang cemar dan najis? Meskipun manusia sedang menantikan kedatangan-Nya, bagaimana mungkin Ia menampakkan diri kepada orang-orang yang memakan daging orang yang tidak benar, meminum darah orang yang tidak benar, mengenakan pakaian orang yang tidak benar, yang percaya kepada-Nya, tetapi tidak mengenal-Nya, dan yang selalu menuntut-Nya? Manusia hanya mengetahui bahwa Yesus sang Juruselamat itu penuh kasih dan belas kasihan, dan Ia adalah korban penghapus dosa yang penuh penebusan. Akan tetapi, manusia tidak tahu bahwa Ia juga adalah Tuhan itu sendiri, yang sangat penuh dengan kebenaran, kemegahan, murka, dan penghakiman, memiliki otoritas serta penuh dengan kehormatan. Oleh karena itu, meskipun manusia sungguh-sungguh mendambakan dan menginginkan kedatangan kembali sang Penebus, dan meskipun Surga tergerak oleh doa-doa manusia, Yesus sang Juruselamat tidak menampakkan diri kepada mereka yang percaya kepada-Nya tetapi yang tidak mengenal-Nya.
"Yahweh" adalah nama yang Aku pakai selama pekerjaan-Ku di Israel, dan yang artinya Tuhan orang Israel (bangsa pilihan Tuhan) yang dapat mengasihani manusia, mengutuk manusia, dan membimbing hidup manusia. Yang artinya Tuhan yang memiliki kuasa besar dan penuh dengan hikmat. "Yesus" adalah Imanuel, dan yang artinya korban penghapus dosa yang penuh kasih, belas kasihan, dan menebus manusia. Ia melakukan pekerjaan Zaman Kasih Karunia, dan mewakili Zaman Kasih Karunia, dan hanya dapat mewakili satu bagian rencana pengelolaan. Dengan kata lain, hanya Yahweh-lah Tuhan umat pilihan Israel, Tuhan Abraham, Tuhan Ishak, Tuhan Yakub, Tuhan Musa, dan Tuhan seluruh bangsa Israel. Begitu pula di zaman sekarang ini, semua orang Israel, selain suku Yehuda, menyembah Yahweh. Mereka mempersembahkan korban kepada-Nya di atas mezbah, dan melayani-Nya dengan mengenakan jubah imam di dalam Bait Suci. Yang mereka harapkan adalah penampakan kembali Yahweh. Hanya Yesus-lah Penebus umat manusia. Dialah korban penghapus dosa yang menebus umat manusia dari dosa. Dengan kata lain, nama Yesus berasal dari Zaman Kasih Karunia, dan ada karena pekerjaan penebusan pada Zaman Kasih Karunia. Nama Yesus ada agar orang-orang pada Zaman Kasih Karunia dapat lahir baru dan diselamatkan, dan merupakan nama teristimewa bagi penebusan seluruh umat manusia. Jadi, nama Yesus mewakili pekerjaan penebusan, dan menandai Zaman Kasih Karunia. Nama Yahweh adalah nama teristimewa bagi bangsa Israel yang hidup di bawah hukum Taurat. Di setiap zaman dan setiap tahap pekerjaan, nama-Ku bukan tanpa dasar, tetapi mengandung makna yang bersifat mewakili: Setiap nama mewakili satu zaman. Yahweh mewakili Zaman Hukum Taurat, dan merupakan sebutan kehormatan bagi Tuhan yang disembah oleh bangsa Israel. "Yesus" mewakili Zaman Kasih Karunia, dan merupakan nama Tuhan bagi semua orang yang ditebus selama Zaman Kasih Karunia. Jika manusia masih rindu akan kedatangan Yesus sang Juruselamat pada akhir zaman, dan masih berharap Ia datang dalam citra diri yang dikenakan-Nya di Yudea, maka seluruh rencana pengelolaan enam ribu tahun akan terhenti pada Zaman Penebusan, dan tidak dapat bergerak maju lagi. Selanjutnya, akhir zaman tidak akan pernah datang, dan zaman ini tidak akan pernah berakhir. Itu karena Yesus sang Juruselamat hanya dimaksudkan untuk penebusan dan penyelamatan umat manusia. Aku memakai nama Yesus demi semua orang berdosa di Zaman Kasih Karunia, tetapi itu bukan nama yang akan Aku pakai untuk membawa seluruh umat manusia kepada akhirnya. Meskipun Yahweh, Yesus, dan Mesias semua mewakili Roh-Ku, nama-nama ini hanya menandai zaman-zaman yang berbeda dalam rencana pengelolaan-Ku, dan tidak mewakili Aku seutuhnya. Nama-nama yang dipakai orang-orang di bumi untuk menyebut Aku tidak dapat mengungkapkan watak-Ku secara utuh dan seluruh keberadaan-Ku. Nama-nama itu hanyalah nama-nama panggilan-Ku dalam zaman-zaman yang berbeda. Oleh karena itu, saat zaman terakhir—akhir zaman—tiba, nama-Ku akan berubah lagi. Aku tidak akan dipanggil Yahweh, atau Yesus, apalagi Mesias, tetapi akan disebut Tuhan itu sendiri yang mahakuasa dan berkuasa, dan dengan nama inilah Aku akan membawa seluruh zaman menuju pada akhirnya. Aku pernah dikenal sebagai Yahweh. Aku juga pernah dipanggil Mesias, dan orang-orang pernah memanggil-Ku Yesus sang Juruselamat karena mereka mengasihi dan menghormati-Ku. Namun saat ini, Aku bukan Yahweh ataupun Yesus yang dikenal orang di masa lampau itu—Aku adalah Tuhan yang datang kembali pada akhir zaman, Tuhan yang akan membawa zaman ini menuju akhir. Aku-lah Tuhan itu sendiri yang bangkit di ujung-ujung bumi, sarat dengan keseluruhan watak-Ku, dan penuh dengan otoritas, hormat, serta kemuliaan. Orang-orang tidak pernah menjalin hubungan dengan-Ku, tidak pernah mengenal-Ku, dan tidak tahu tentang watak-Ku. Sejak penciptaan dunia hingga saat ini, tidak seorang pun pernah melihat-Ku. Inilah Tuhan yang menampakkan diri kepada manusia pada akhir zaman, tetapi tersembunyi di antara manusia. Ia berdiam di antara manusia, benar dan nyata, seperti matahari yang menyala-nyala dan lidah api, penuh dengan kuasa dan sarat akan otoritas. Tidak ada satu orang atau perkara pun yang tidak akan dihakimi oleh firman-Ku, dan tidak satu orang atau perkara pun yang akan luput dari pemurnian melalui nyala api. Pada akhirnya, segala bangsa akan diberkati karena firman-Ku, dan juga dihancurkan berkeping-keping karena firman-Ku. Dengan demikian, semua orang pada akhir zaman melihat bahwa Akulah Juruselamat yang datang kembali, Akulah Tuhan Yang Mahakuasa yang menaklukkan semua umat manusia. Aku pernah menjadi korban penghapus dosa manusia, tapi di akhir zaman, Aku juga menjadi terik matahari yang membakar segala sesuatu, dan juga Matahari kebenaran yang menyingkapkan segala sesuatu. Demikianlah pekerjaan-Ku di akhir zaman. Aku memakai nama ini dan Aku penuh dengan watak demikian supaya semua orang dapat melihat bahwa Akulah Tuhan yang benar, dan matahari yang menyala-nyala, dan lidah api. Supaya semua dapat menyembah-Ku, satu-satunya Tuhan yang benar, dan supaya mereka dapat melihat rupa-Ku yang sejati: Aku bukan hanya Tuhan orang Israel, dan bukan hanya Sang Penebus—Aku adalah Tuhan atas segala ciptaan di seluruh langit dan di seluruh bumi dan di lautan.
Ketika sang Juruselamat datang pada akhir zaman, seandainya Ia masih disebut Yesus, dan sekali lagi terlahir di Yudea, dan melakukan pekerjaan-Nya di Yudea, maka hal ini akan membuktikan bahwa Aku hanya menciptakan bangsa Israel dan hanya menebus bangsa Israel, dan Aku tidak mempunyai hubungan apa-apa dengan bangsa-bangsa bukan Yahudi. Bukankah ini akan berlawanan dengan firman-Ku, bahwa "Aku-lah Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dan segala sesuatu"? Aku meninggalkan Yudea dan melakukan pekerjaan-Ku di antara bangsa-bangsa bukan Yahudi karena Aku bukan hanya Tuhan atas bangsa Israel, tetapi Tuhan atas seluruh ciptaan. Aku menampakkan diri kepada bangsa-bangsa bukan Yahudi pada akhir zaman karena Aku bukan hanya Yahweh, Tuhan bangsa Israel, tetapi, terlebih lagi, karena Aku-lah Pencipta semua umat pilihan-Ku di antara bangsa-bangsa bukan Yahudi. Aku bukan hanya menciptakan Israel, Mesir, dan Libanon, tetapi juga semua bangsa-bangsa bukan Yahudi di luar Israel. Dan karena inilah Aku adalah Tuhan atas seluruh ciptaan. Aku hanya memakai Israel sebagai titik awal pekerjaan-Ku, menggunakan Yudea dan Galilea sebagai kubu-kubu pekerjaan penebusan-Ku, dan memakai bangsa-bangsa bukan Yahudi sebagai landasan Aku mengakhiri segala zaman. Aku melakukan dua tahap pekerjaan di Israel (kedua tahap pekerjaan pada Zaman Hukum Taurat dan Zaman Kasih Karunia), dan Aku tengah melaksanakan dua tahap pekerjaan selanjutnya (Zaman Kasih Karunia dan Zaman Kerajaan) di seluruh negeri-negeri di luar Israel. Di antara bangsa-bangsa bukan Yahudi, Aku akan melakukan pekerjaan penaklukkan, dan menyudahi zaman ini. Jika manusia selalu memanggil-Ku Yesus Kristus, tetapi tidak menyadari bahwa Aku telah memulai zaman baru pada akhir zaman ini dan telah memulai pekerjaan baru, dan jika manusia selalu terobsesi menantikan kedatangan Yesus sang Juruselamat, maka Aku akan menyebut orang-orang seperti ini orang-orang yang tidak percaya kepada-Ku. Mereka adalah orang-orang yang tidak mengenal-Ku, dan kepercayaan mereka kepada-Ku palsu. Mungkinkah orang-orang seperti ini menyaksikan kedatangan Yesus sang Juruselamat dari surga? Yang mereka nantikan bukanlah kedatangan-Ku, tetapi kedatangan Raja orang Yahudi. Mereka tidak mendambakan pemusnahan yang Kulakukan terhadap dunia lama yang najis ini, melainkan sangat merindukan kedatangan Yesus yang kedua kalinya, saat mereka akan ditebus; mereka menantikan Yesus sekali lagi menebus seluruh umat manusia dari tanah yang cemar dan jahat ini. Bagaimana mungkin orang-orang seperti itu menjadi mereka yang menyelesaikan pekerjaan-Ku pada akhir zaman? Hasrat manusia tidak mampu memenuhi keinginan-Ku maupun menyelesaikan pekerjaan-Ku, karena manusia hanya mengagumi atau menghargai pekerjaan yang Kulakukan dahulu, dan tidak tahu bahwa Aku adalah Tuhan itu sendiri yang selalu baru dan tak pernah usang. Manusia hanya tahu bahwa Aku adalah Yahweh, dan Yesus, tanpa sedikit pun pemahaman bahwa Aku adalah Yang Terkemudian, Pribadi yang akan membawa umat manusia menuju akhir. Segala yang didambakan dan dikenal manusia hanya berdasarkan pemahamannya sendiri, dan tak lebih dari yang dapat dilihat dengan matanya sendiri. Hal itu tidak sejalan dengan pekerjaan yang Kulakukan, justru bertentangan dengan pekerjaan-Ku. Jika pekerjaan-Ku dilakukan menuruti gagasan-gagasan manusia, kapan pekerjaan itu akan rampung? Kapan umat manusia akan memasuki tempat perhentian? Dan bagaimanakah Aku akan dapat memasuki hari ketujuh, hari Sabat? Aku bekerja seturut rencana-Ku, sesuai dengan tujuan-Ku, dan bukan berdasarkan niat manusia.
-
Oleh Li ChengAku Percaya Bahwa Devosi Rohani Terdiri dari Membaca Alkitab, Berdoa dan Menyanyikan Lagu Pujian Secara Terus-menerus
Aku ingat saat pertama kalinya aku pergi ke gereja dan mendengarkan pendeta menyampaikan khotbah, dan setelah itu aku beroleh pengetahuan tentang keselamatan dari Tuhan Yesus dan aku menyatakan keinginanku untuk percaya kepada Tuhan di gereja tersebut. Sebelum aku pulang, pendeta mengingatkanku:"Untuk hidup sebagai seorang Kristen, orang harus melakukan devosi rohani." Aku bertanya kepada pendeta: "Apa itu devosi rohani? Bagaimana kita melakukannya?" Pendeta kemudian memberi tahu aku, "Devosi rohani adalah membaca Alkitab, berdoa dan menyanyikan lagu pujian setiap hari. Ketika kita berdoa, kita harus berdoa untuk keluarga kita, berdoa untuk saudara-saudari yang lemah di gereja kita, dan berdoa untuk para hamba Tuhan. Kita harus terus membaca Alkitab dan menyanyikan lagu pujian setiap hari, dan kita harus terus melakukannya tanpa henti. Selama engkau rajin menerapkan devosi rohani ini setiap hari, kerohanianmu akan terus berkembang dan engkau akan menjadi semakin dekat dengan Tuhan, dan hal ini akan menyenangkan hati Tuhan."Karena itu aku mulai melakukan seperti apa yang dikatakan pendeta. Setiap hari tepat jam 5 pagi aku bangun dari tempat tidur dan memulai devosi rohaniku. Pertama, aku akan membaca dua pasal dari Alkitab, lalu aku menyanyikan lagu-lagu pujian, dan kemudian aku berdoa seperti yang dinasihatkan pendeta kepadaku. Musim datang silih berganti dan aku tetap melakukan rutinitas ini, dan aku tetap berdoa meskipun kadang-kadang kakiku kram karena berlutut begitu lama. Beberapa tahun telah berlalu, dan aku percaya bahwa aku telah memperoleh lebih banyak pencerahan melalui praktik devosi rohaniku, bahwa aku semakin lama semakin memahami firman Tuhan, dan bahwa aku telah menjadi jauh lebih dekat dengan Tuhan. Namun kenyataannya, meskipun mampu melafalkan beberapa ayat klasik dari Alkitab dan mengingat beberapa kata yang sering kugunakan dalam doa, aku masih tidak mengerti sama sekali tentang firman Tuhan, kehendak Tuhan ataupun tuntutan-tuntutan-Nya. Hal ini mencapai titik di mana aku bahkan jatuh tertidur selama melakukan devosi rohaniku, dan aku tidak bisa merasakan kehadiran Tuhan sedikit pun.Aku bertanya kepada sejumlah pengkhotbah juga kepada banyak saudara-saudari tentang cara melakukan devosi rohani agar seseorang bisa hidup dekat dengan Tuhan, tetapi cara mereka melakukan devosi rohani ternyata hampir sama dengan caraku melakukannya. Mereka juga bangun pagi-pagi untuk berdoa, membaca Alkitab dan menyanyikan lagu-lagu pujian untuk Tuhan, tanpa mencapai hasil yang jelas. Beberapa orang bahkan tertidur ketika berdoa. Hal ini menyebabkan aku merasa sangat cemas: Aku telah melakukan devosi rohani selama beberapa tahun terakhir seperti yang diajarkan oleh pendeta kepadaku, namun mengapa aku tidak mencapai hasil yang baik? Apakah cara melakukan devosi rohani ini tidak terpuji di mata Tuhan? Apa sebenarnya kehendak Tuhan?Apa yang Merupakan Devosi Rohani Sejati?
Suatu hari, aku mengunjungi Saudari Song di rumahnya untuk belajar Alkitab. Ketika aku bertanya bagaimana melakukan devosi rohani yang berkenan di hati Tuhan, Saudari Song mengeluarkan sebuah buku berjudul Gulungan Kitab Dibuka oleh Anak Domba, dan membacakan sebuah petikan darinya: "Kehidupan rohani yang normal tidak terbatas pada doa, nyanyian, kehidupan bergereja, makan dan minum firman Tuhan, serta praktik lainnya, namun berarti menjalani kehidupan rohani yang baru dan semarak. Ini bukan tentang metode, namun tentang hasil. Sebagian besar orang berpikir bahwa untuk memiliki kehidupan rohani yang normal, seseorang harus berdoa, bernyanyi, makan dan minum firman Tuhan, atau mencoba memahami firman Tuhan. Tidak peduli apakah ada hasilnya, atau apakah ada pemahaman sejati, orang-orang ini hanya berfokus pada rutinitas, dan tidak berfokus pada hasil—mereka adalah orang yang hidup di dalam ritual keagamaan, bukan orang yang hidup di dalam gereja, lebih lagi mereka bukanlah umat kerajaan Surga. Doa, nyanyian, makan dan minum firman Tuhan yang dilakukan orang ini, semuanya ditetapkan oleh aturan, mereka terpaksa melakukannya, dan semua itu dilakukan karena mengikuti tren; semua itu bukan dilakukan dengan sukarela atau dari hati. Seberapa pun seringnya orang-orang ini berdoa atau bernyanyi, tidak akan ada hasilnya sama sekali, karena mereka hanya menjalankan aturan dan ritual keagamaan; bukan melakukan firman Tuhan. Hanya dengan berfokus pada metode, dan memandang firman Tuhan sebagai aturan untuk ditegakkan, orang jenis ini tidak melakukan firman Tuhan, namun memuaskan daging, dan melakukan banyak hal untuk pamer kepada orang lain. Ritual dan aturan keagamaan jenis ini datang dari manusia, bukan dari Tuhan. Tuhan tidak menegakkan aturan, tidak terikat oleh hukum apa pun; Ia melakukan hal baru setiap hari dan Ia melakukan pekerjaan yang praktis. … Jika jemaat hidup dalam aturan, dengan hati yang tertuju pada ibadah, maka Roh Kudus tidak dapat bekerja, karena hati jemaat diambil alih oleh aturan-aturan, dipenuhi oleh pemahaman manusia; maka dari itu, Tuhan tidak memiliki cara untuk dapat bekerja; jemaat hanya akan senantiasa tinggal di bawah kendali hukum, dan orang jenis ini tidak akan pernah bisa mendapatkan pujian dari Tuhan" ("Mengenai Kehidupan Spiritual yang Normal").Kutipan yang dibacakan oleh Saudari Song itu mengguncang hatiku. Aku sebelumnya telah mempelajari teologi dan membaca banyak buku rohani, baik yang kuno maupun modern, yang berasal dari Tiongkok maupun negara lainnya, dan aku telah mendengarkan banyak rekaman khotbah dari para pengkhotbah terkenal, namun aku belum pernah melihat atau mendengar ada orang yang bisa menjelaskan sejelas itu—sejernih kristal–tentang apa yang merupakan devosi rohani sejati dan hasil yang dapat kita capai jika melakukan devosi rohani. Selain itu, bacaan tersebut mengungkapkan situasi devosi rohani kita selama ini— ternyata selama ini ada beberapa aturan dan penyimpangan dalam devosi rohani kita!Setelah itu, aku mulai memahami melalui penjelasan Saudari Song bahwa devosi rohani bukan berarti terus-menerus membaca Alkitab, menyanyikan lagu-lagu pujian dan berdoa setiap hari, karena devosi rohani sejati bukanlah tergantung pada pengamalan seseorang yang terlihat dari luar atau seberapa baik seseorang melaksanakan ritual keagamaannya, atau berapa lama seseorang melakukannya setiap hari. Sebaliknya, hasilnyalah yang penting; yaitu, tergantung apakah devosi rohani kita berhasil memampukan kita untuk memperoleh lebih banyak pencerahan dan penerangan dari Roh Kudus atau tidak, apakah devosi itu memungkinkan kita untuk memiliki pemahaman yang lebih baik tentang kehendak Tuhan dan apakah devosi itu memampukan kita untuk hidup lebih dekat dengan Tuhan atau tidak. Sebagai contoh, kita tidak menyanyikan lagu-lagu pujian sekadarnya, tetapi melakukannya untuk berlatih menenangkan hati kita di hadapan Tuhan. Ketika kita menyanyikan lagu-lagu pujian, kita dapat memperoleh pencerahan dan bimbingan Roh Kudus, dan dengan demikian memahami kehendak Tuhan. Doa tidak hanya melafalkan kata-kata yang sama berulang-ulang hari demi hari, tahun demi tahun, atau meyakini bahwa semakin lama seseorang berdoa dan semakin banyak yang dia doakan maka hal itu akan semakin sesuai dengan kehendak Tuhan. Sebaliknya, doa adalah membuka hati kita dan memercayai Tuhan tentang semua hal yang ada di hati kita dan semua kesulitan yang dialami oleh kita. Doa adalah datang ke hadapan Tuhan, mencari kehendak-Nya, dan mencari jalan untuk menerapkannya. Membaca firman Tuhan tidak dilakukan untuk sekadar memahami arti harfiah dari firman itu dan mempersenjatai diri kita dengan pengetahuan dan doktrin rohani sehingga kita dapat mengkhotbahkannya kepada orang lain atau menyelesaikan masalah saudara-saudari kita. Sebaliknya, kita membaca firman Tuhan untuk merenungkannya, untuk memahami kehendak dan tuntutan Tuhan bagi kita, agar dapat menerapkan firman Tuhan dengan lebih baik lagi dan melakukan apa yang sesuai dengan kehendak Tuhan.Aku tidak pernah mencari hasil dari devosi rohaniku, tetapi sebaliknya aku melakukannya setiap hari seolah-olah hanya untuk menyelesaikan suatu tugas. Ketika aku menyanyikan lagu-lagu pujian, aku bernyanyi tanpa tujuan; ketika aku berdoa, aku seperti kaset rusak yang mengucapkan hal yang sama berulang-ulang; ketika aku membaca Alkitab, aku hanya mengerti arti harfiah dari firman itu dan mempersenjatai diriku dengan sedikit teori rohani. Aku tidak pernah merenungkan mengapa Tuhan mengucapkan apa yang Dia katakan, apa kehendak dan tuntutan-Nya di balik hal-hal yang Dia katakan, kebenaran apa yang aku pahami dari firman-Nya, dan seterusnya. Ketika membandingkan diriku dengan kutipan yang dibacakan oleh Saudari Song, aku akhirnya melihat bahwa devosi rohaniku tidak lain hanyalah untuk sekadar mengikuti aturan dan terlibat dalam ritual keagamaan—itu bukanlah devosi rohani yang benar dan sama sekali tidak akan diperkenan oleh Tuhan. Aku sungguh-sungguh merenungkan kutipan tersebut dan aku melihat bahwa kutipan itu tidak hanya mengungkapkan akar penyebab mengapa kita tidak bisa mencapai apa-apa dengan devosi rohani kita, tetapi juga menunjukkan kepada kita jalan untuk menerapkannya. Kutipan tersebut benar-benar telah sangat membantu dan bermanfaat bagiku! Aku ingin membacanya lebih lanjut, jadi aku meminjam buku tersebut dari Saudari Song.
Cara Melakukan Devosi Rohani yang Benar
Setelah aku pulang, aku membaca beberapa bagian dari buku tersebut satu persatu. Salah satu bagian mengatakan: "Orang percaya kepada Tuhan, mengasihi Dia, dan memuaskan Dia dengan cara menyentuh Roh Tuhan dengan hati mereka, sehingga memperoleh kepuasan-Nya. Ketika mencerna Firman Tuhan dengan hati mereka, dengan demikian mereka digerakkan oleh Roh Tuhan. Jika ingin mencapai kehidupan rohani yang benar dan membangun hubungan yang benar dengan Tuhan, engkau harus terlebih dahulu memberikan hatimu kepada-Nya dan menenangkan hatimu di hadapan-Nya. Hanya setelah engkau menyerahkan segenap hatimu kepada Tuhan, engkau dapat secara bertahap mengembangkan kehidupan rohani yang benar. … Jika hatimu dapat dicurahkan kepada Tuhan dan tetap tenang di hadapan-Nya, engkau akan memiliki kesempatan dan kualifikasi yang dapat dipakai oleh Roh Kudus, untuk menerima pencerahan dan penerangan Roh Kudus, dan bahkan terlebih lagi, engkau akan memberi kesempatan kepada Roh Kudus untuk memperbaiki kelemahanmu. Ketika engkau memberi hatimu kepada Tuhan, engkau dapat memasuki aspek positif lebih dalam dan berada di tataran wawasan yang lebih tinggi; dalam aspek negatif, engkau akan memiliki lebih banyak pemahaman atas kesalahan dan kelemahanmu sendiri, akan lebih bersemangat dalam upayamu memenuhi kehendak Tuhan; engkau tidak akan pasif, dan akan masuk secara aktif. Ini berarti engkau adalah orang yang tepat" ("Membangun Hubungan yang Benar Dengan Tuhan Sangatlah Penting").Ketika aku merenungkan bagian tersebut, aku mengerti bahwa jika aku ingin memiliki kehidupan rohani yang normal, maka pertama-tama aku harus melepaskan semua aturan dan praktik lamaku di masa lalu, menarik hatiku dari semua orang, peristiwa dan hal-hal lainnya yang ada di dunia luar dan menenangkan diri di hadapan Tuhan, dan berdoa kepada Tuhan, membaca firman Tuhan dan merenungkan firman Tuhan dengan hati yang jujur. Jika menemukan hal-hal yang tidak kumengerti, aku tahu aku harus lebih banyak berdoa dan mencari Tuhan lebih banyak—aku tidak bisa hanya melihat firman Tuhan sepintas lalu dan melewatinya begitu saja. Hanya berlatih dengan cara inilah aku akan dapat memperoleh pencerahan dan penerangan dari Roh Kudus dan membangun hubungan yang normal dengan Tuhan. Ketika kita mencurahkan hati ke dalam firman Tuhan, kita akhirnya menemukan apakah kita telah bertindak sesuai dengan keinginan kita sendiri atas hal-hal yang kita temui dalam hidup atau apakah kita telah bertindak sesuai dengan firman Tuhan. Kita menemukan bahwa ada beberapa hal di mana kita tidak sepenuhnya bertindak sesuai dengan kehendak Tuhan, dan kita menemukan bahwa masih ada dalam diri kita beberapa penyimpangan dan kekurangan, dan sebagainya. Ketika kita merenungkan hal-hal ini, kita mencari jalan untuk menerapkan firman Tuhan, kemudian kita memperkenalkannya ke dalam hidup kita, menerapkannya dan masuk ke dalamnya untuk menyelesaikan masalah kita yang nyata. Hanya kehidupan rohani yang dapat mencapai hasil seperti inilah yang merupakan devosi rohani yang benar. Begitu aku memahami hal ini, aku mulai berlatih dan masuk ke dalamnya: Ketika aku melakukan devosi rohani, aku akan berdoa kepada Tuhan tentang semua masalah dan kesulitan yang aku temui setiap hari dan mencari jalan keluarnya berdasarkan firman Tuhan. Ketika aku berdoa, aku memberi tahu Tuhan segala yang ada di hatiku dan berbicara jujur kepada-Nya, dan aku memercayakan kepada Tuhan semua kesulitanku dan meminta bantuan-Nya; doa-doaku tidak lagi mengikuti aturan dan sekadar melakukan ritual keagamaan atau mengucapkan kata-kata yang sama berulang-ulang. Ketika aku membaca firman Tuhan, tidak penting lagi seberapa banyak yang kubaca atau berapa banyak yang bisa kuhafal. Alih-alih, aku berfokus pada merenungkan dan mencari kehendak dan perintah Tuhan, aku merenungkan apakah aku telah menerapkan firman Tuhan ketika menghadapi masalah, jika tidak menerapkannya mengapa, dan apa yang harus aku lakukan jika berikutnya aku menghadapi masalah seperti itu lagi, dan seterusnya. Setelah menerapkan dengan cara ini selama beberapa waktu, aku merasa hubunganku dengan Tuhan menjadi semakin normal, aku sering merasakan pencerahan dan bimbingan Roh Kudus ketika membaca firman Tuhan, dan ketika aku berdoa, aku akan merasa tergerak dan dengan jelas merasakan bahwa Tuhan sedang mendengarkan doa-doaku. Terima kasih, Tuhan!Buku yang berjudul Gulungan Kitab Dibuka oleh Anak Domba, tersebut juga membahas tentang apa yang membentuk kehidupan rohani yang sejati, bagaimana membangun hubungan normal dengan Tuhan, apa yang membentuk kehidupan bergereja yang sejati, dan sebagainya. Semakin banyak aku membaca, semakin jelas semua itu bagiku dan semakin aku menikmatinya. Selain itu, buku ini menjelaskan banyak hal yang sebelumnya tidak pernah kumengerti dalam Alkitab. Melalui membaca buku ini, banyak masalah yang sebelumnya membingungkan aku dapat diselesaikan, dan aku tiba-tiba melihat cahaya, seolah-olah awan telah melayang pergi dan menyingkapkan cahaya matahari. Aku merasa seolah-olah buku ini tidak mungkin ditulis oleh orang biasa, karena terlalu meneguhkan, terlalu bermanfaat, dan aku tidak bisa tidak memikirkan firman yang dikatakan Tuhan Yesus: "Ada banyak hal lain yang bisa Kukatakan kepadamu, tetapi engkau tidak bisa menerima semuanya itu saat ini. Namun, ketika Dia, Roh Kebenaran itu, datang, Dia akan menuntun engkau sekalian ke dalam seluruh kebenaran: karena Dia tidak akan berbicara tentang diri-Nya sendiri; tetapi Dia akan menyampaikan segala sesuatu yang telah didengar-Nya: dan Dia akan menunjukkan hal-hal yang akan datang kepadamu" (Yohanes 16: 12-13). Tuhan menyatakan dengan jelas bahwa ketika Dia datang kembali, Dia akan memberi tahu kita semua kebenaran yang belum kita pahami. Buku ini mampu menjelaskan semuanya dengan sangat jelas—mungkinkah kata-kata yang ada dalam buku ini berasal dari perkataan Roh Kudus? Aku mempelajari buku ini dengan saksama dan membaca judulnya, Gulungan Kitab Dibuka oleh Anak Domba. Hatiku berdetak kencang ketika aku tiba-tiba berpikir: Mungkinkah buku ini adalah gulungan kecil yang dinubuatkan berulang kali dalam kitab Wahyu? Namun gulungan kecil yang disegel itu hanya bisa dibuka oleh Anak Domba…. Memikirkan hal-hal ini, aku tidak bisa duduk diam lebih lama, dan setelah berdoa kepada Tuhan, aku mengambil buku tersebut dan bergegas ke rumah Saudari Song … -
Mengenai Kehidupan Rohani yang NormalOrang yang percaya harus memiliki kehidupan rohani yang normal—inilah landasan untuk mengalami firman Tuhan dan masuk ke dalam realitas. Saat ini, bisakah semua doa, upaya untuk dekat dengan Tuhan, nyanyian, pujian, meditasi, dan upaya memahami firman Tuhan yang engkau sekalian lakukan memenuhi standar kehidupan rohani yang normal? Tidak seorang pun dari antaramu yang sangat memahami hal ini. Kehidupan rohani yang normal tidak terbatas pada doa, nyanyian, kehidupan bergereja, makan dan minum firman Tuhan, serta praktik lainnya, namun berarti menjalani kehidupan rohani yang segar dan hidup. Ini bukan tentang metode, namun tentang hasil. Sebagian besar orang berpikir bahwa untuk memiliki kehidupan rohani yang normal, seseorang harus berdoa, bernyanyi, makan dan minum firman Tuhan, atau mencoba memahami firman Tuhan. Tidak peduli apakah ada hasilnya, atau apakah ada pemahaman sejati, orang-orang ini hanya berfokus pada rutinitas, dan tidak berfokus pada hasil—mereka adalah orang yang hidup di dalam ritual keagamaan, bukan orang yang hidup di dalam gereja, lebih lagi mereka bukanlah umat kerajaan Surga. Doa, bernyanyi, makan dan minum firman Tuhan yang dilakukan orang ini, semuanya ditetapkan oleh aturan, mereka terpaksa melakukannya, dan semua itu dilakukan karena mengikuti tren; semua itu tidak dilakukan dengan sukarela atau dari hati. Seberapa pun seringnya orang-orang ini berdoa atau bernyanyi, tidak akan ada hasilnya sama sekali, karena mereka hanya menjalankan aturan dan ritual keagamaan; bukan melakukan firman Tuhan. Hanya dengan berfokus pada metode, dan memandang firman Tuhan sebagai aturan untuk ditegakkan, orang jenis ini tidak melakukan firman Tuhan, namun memuaskan daging, dan melakukan banyak hal untuk pamer kepada orang lain. Ritual dan aturan keagamaan jenis ini datang dari manusia, bukan dari Tuhan. Tuhan tidak menegakkan aturan, tidak terikat oleh hukum apa pun; Ia melakukan hal baru setiap hari dan Ia melakukan pekerjaan yang nyata. Seperti jemaat di Gereja Tiga Pendirian, yang terbatas pada saat teduh pagi, doa malam, doa makan, bersyukur dalam segala hal, dan ibadah sejenis, sebanyak apa pun yang mereka lakukan, atau seberapa lama pun mereka melakukannya, mereka tidak akan memiliki pekerjaan Roh Kudus. Jika orang hidup dalam aturan, dengan hati yang tertuju pada ibadah, maka Roh Kudus tidak dapat bekerja, karena hati mereka diambil alih oleh aturan-aturan, dipenuhi oleh pemahaman manusia; maka dari itu, Tuhan tidak memiliki cara untuk dapat bekerja; orang-orang ini hanya akan senantiasa tinggal di bawah kendali hukum, dan orang jenis ini tidak akan pernah bisa mendapatkan pujian dari Tuhan.Kehidupan rohani yang normal adalah menjalani hidup di hadapan Tuhan. Ketika berdoa, orang dapat menenangkan hatinya di hadapan Tuhan, dan melalui doa, ia dapat mencari pencerahan Roh Kudus, memahami firman Tuhan, dan dapat mengerti kehendak Tuhan. Ketika makan dan minum dari firman Tuhan, ia dapat mengerti lebih jelas dan lebih mudah mengenai apa yang Tuhan ingin lakukan sekarang, dan bisa memiliki jalan penerapan yang baru dan ia tidak bersikap konservatif, sehingga semua ibadah yang dilakukannya adalah untuk tujuan mencapai perkembangan dalam hidup. Misalnya, saat berdoa, doanya itu bukan untuk tujuan mengatakan hal-hal yang baik, atau untuk berseru di hadapan Tuhan guna mengungkapkan perasaan berutangnya, sebaliknya itu adalah untuk melatih rohnya, untuk menenangkan hatinya di hadapan Tuhan, untuk berlatih mencari petunjuk dalam segala hal, untuk menjadikan hatinya hati yang ditarik oleh terang baru setiap hari, tidak untuk menjadi pasif atau malas, dan untuk masuk ke jalur yang benar dalam melakukan firman Tuhan. Saat ini, sebagian besar orang berfokus pada metode, dan tidak mencoba mengejar kebenaran untuk mencapai perkembangan dalam hidup; di sinilah orang-orang menyimpang. Juga ada beberapa orang yang, meskipun mereka mampu menerima terang baru, metode mereka tidak berubah; mereka memadukan pemahaman keagamaan lama mereka untuk menerima firman Tuhan pada zaman sekarang, dan apa yang mereka terima masih merupakan doktrin yang membawa pemahaman agama besertanya, dan mereka tidak secara langsung menerima terang hari ini. Maka dari itu, ibadah mereka tidak murni—mereka melakukan hal yang sama dengan nama baru, dan seberapa pun bagusnya ibadah mereka, itu tetap saja munafik. Tuhan membimbing orang untuk melakukan hal baru setiap hari, dan mewajibkan mereka untuk memiliki wawasan dan pemahaman baru setiap hari, serta tidak kuno atau monoton. Jika engkau telah percaya pada Tuhan selama bertahun-tahun, namun metodemu belum berubah sama sekali, jika engkau masih bersemangat dan sibuk di luar, dan tidak hadir di hadapan Tuhan untuk menikmati firman-Nya dengan hati yang tenang, maka engkau tidak akan bisa memperoleh apa pun. Ketika menerima pekerjaan baru Tuhan, jika engkau tidak menyusun rencana baru, jika engkau tidak melakukannya dengan cara yang baru, jika engkau tidak mencari pemahaman baru, namun berpegang pada hal-hal lama dari masa lalu dan hanya menerima sejumlah kecil terang yang baru tanpa mengubah caramu melakukannya, maka meskipun orang jenis ini secara nama berada dalam aliran ini, pada kenyataannya mereka adalah orang Farisi beragama yang berada di luar aliran Roh Kudus.Jika ingin menjalani kehidupan rohani yang normal, engkau perlu menerima terang yang baru setiap hari, mencari pengertian sejati firman Tuhan, dan memperoleh kejelasan mengenai kebenaran. Engkau perlu memiliki jalan penerapan dalam melakukan segala hal, dan dengan membaca firman Tuhan setiap hari, engkau dapat menemukan pertanyaan baru dan menyadari kekuranganmu sendiri. Hal ini selanjutnya akan menghasilkan hati yang haus dan lapar, yang akan menggerakkan seluruh keberadaanmu, dan engkau akan mampu tenang di hadapan Tuhan kapan saja, dan merasa takut akan tertinggal. Jika orang bisa memiliki hati yang haus dan mencari, juga bersedia untuk memasukinya secara terus menerus, maka mereka berada di jalur yang benar dalam kehidupan rohaninya. Semua orang yang bersedia menerima dirinya digerakkan Roh Kudus, yang ingin mengalami kemajuan, yang bersedia disempurnakan oleh Tuhan, yang merindukan pemahaman akan firman Tuhan yang lebih mendalam, dan yang tidak mencari hal-hal supernatural, namun yang membayar harga nyata, menunjukkan pertimbangan nyata akan kehendak Tuhan, memasuki secara nyata, menjadikan pengalaman mereka lebih sejati dan lebih realistis, yang tidak mencari kata-kata kosong dari doktrin, dan yang juga tidak mencari perasaan supernatural, atau menyembah manusia hebat mana pun—orang jenis ini telah memasuki kehidupan rohani yang normal. Segala sesuatu yang mereka lakukan adalah untuk tujuan mencapai lebih banyak perkembangan dalam hidup, untuk menjaga roh mereka tetap baru dan tidak stagnan, dan untuk senantiasa mampu memasuki secara positif. Misalnya ketika mereka berdoa sebelum makan, mereka tidak terpaksa untuk melakukannya, namun mereka menenangkan hati mereka di hadapan Tuhan, bersyukur kepada Tuhan di dalam hati, dan bersedia hidup untuk Tuhan, meletakkan waktu mereka di tangan Tuhan, serta bersedia bekerja sama dengan Tuhan dan mencurahkan energi untuk Tuhan. Jika hati mereka tidak bisa tenang di hadapan Tuhan, mereka lebih memilih untuk tidak makan, namun tetap beribadah maka ini bukan terikat oleh aturan, tetapi melakukan firman Tuhan. Beberapa jemaat ketika berdoa sebelum makan, secara sadar memposisikan tubuh pada postur tertentu untuk melakukan gerakan tertentu, yang tampak sangat saleh, namun pikiran mereka berkelana ke mana-mana: "Mengapa aku perlu melakukan dengan cara ini? Bukankah banyak hal berjalan baik-baik saja tanpa berdoa? Banyak hal masih sama saja setelah berdoa, jadi mengapa harus repot?" Orang jenis ini terikat aturan, dan meskipun mereka berkata bahwa mereka bersedia menyenangkan Tuhan, hati mereka belum hadir di hadapan Tuhan. Mereka berdoa seperti ini bukan untuk berlatih menenangkan hati di hadapan Tuhan, namun melakukannya untuk membodohi orang lain dan agar orang lain melihat. Orang jenis ini benar-benar orang munafik, seperti gembala agamis yang hanya bisa memohon untuk orang lain, namun diri sendiri tidak bisa memasuki; orang jenis ini adalah pemuka agama, sampai ke tulang sumsumnya! Setiap hari Tuhan mengatakan hal-hal baru, melakukan hal-hal baru, namun engkau terikat oleh aturan setiap hari, mencoba membodohi Tuhan, berurusan dengan Tuhan secara acuh tak acuh, jadi bukankah engkau merupakan seseorang yang menentang Tuhan? Bisakah engkau menerima berkat saat terikat oleh aturan dan menentang Tuhan? Tidakkah engkau akan dihajar oleh Tuhan?Pekerjaan Tuhan sedang berkembang pesat, menghempaskan agamawan dari berbagai agama dan denominasi dan selebriti yang mematuhi ibadah gereja ke tempat yang jauh, juga menyerakkan para pakar di antara engkau sekalian yang sangat senang terikat oleh aturan ke empat penjuru mata angin. Pekerjaan Tuhan tidak menunggu, tidak mengandalkan apa pun dan tidak ditunda-tunda. Tidak menarik atau menyeret siapa pun; jika tidak bisa mengimbanginya, maka engkau akan ditinggalkan, tidak peduli berapa tahun engkau telah mengikuti-Nya. Tidak peduli seberapa memenuhi syaratnya engkau bak veteran, jika terikat aturan, engkau akan disingkirkan. Aku menyarankan orang jenis ini untuk memiliki sedikit kesadaran diri, untuk dengan sukarela mengurangi perannya, dan tidak berpegang pada hal lama; membuat orang-orang melakukan firman Tuhan sesuai dengan prinsip tindakanmu—bukankah tindakan ini mencoba memenangkan hati manusia? Ibadahmu terikat aturan, dan mengajarkan kepada orang-orang untuk berpegang pada pelayanan gereja. Engkau senantiasa membuat orang melakukan banyak hal sesuai dengan keinginanmu, jadi bukankah ini membentuk kelompok-kelompok kecil? Bukankah ini memecah-mecah gereja? Jadi bagaimana engkau memiliki keberanian untuk berkata bahwa engkau mempertimbangkan kehendak Tuhan? Apa yang memberimu hak untuk berkata bahwa semua ini adalah untuk menyempurnakan orang lain? Jika engkau terus hidup dengan cara ini, bukankah hal ini mengarahkan orang pada ritual keagamaan? Jika orang memiliki kehidupan rohani yang normal, jika mereka memperoleh pelepasan dan kebebasan dalam roh mereka setiap hari, maka mereka bisa melakukan firman Tuhan dengan bebas untuk memuaskan Tuhan, dan bahkan ketika berdoa, mereka tidak hanya menjalankan formalitas atau mengikuti proses, dan mereka mampu mengimbangi terang baru setiap hari. Misalnya, ketika berlatih menenangkan hati di hadapan Tuhan, mereka bisa membuat hati mereka benar-benar tenang di hadapan Tuhan, dan tak seorang pun dapat mengganggu mereka, dan tak ada orang, peristiwa, atau hal-hal yang dapat mengekang kehidupan rohani mereka yang normal. Ibadah semacam ini bertujuan memperoleh hasil, bukan hanya memberi kepada orang berbagai aturan untuk mereka taati. Penerapan semacam ini tidak terikat oleh aturan, namun untuk memajukan perkembangan orang dalam hidup. Jika engkau hanyalah orang yang menegakkan aturan, maka hidupmu tidak akan pernah berubah; meskipun orang lain bisa melakukan dengan cara ini, seperti yang engkau lakukan, pada akhirnya, orang lain dapat mengimbangi laju pekerjaan Roh Kudus, sedangkan engkau akan tersingkir dari aliran Roh Kudus. Jadi, bukankah engkau membodohi dirimu sendiri? Tujuan firman ini adalah untuk memungkinkan orang menenangkan hati mereka di hadapan Tuhan dan berpaling kepada Tuhan, untuk memungkinkan pekerjaan Tuhan dilaksanakan terhadap orang-orang dengan leluasa, dan agar memperoleh hasil.